Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

03 March 2014

Capres 2014, Antara Prabowo Dan Wiranto

Kita mulai dengan P – dia intellegent, cerdas, berani, berpendidikan Barat seperti bapaknya Prof Dr. Sumitro. Karena beralam pikiran Barat, dia bersikap langsung dan terbuka, tidak ada padanya kemunafikan feodal Jawa. Ambisinya bukan saja meraih kepemimpinan ABRI akan tetapi ingin menjadi presiden. Mengapa tidak? Mertuanya, Soeharto, yang tak berpendidikan saja bisa jadi presiden, mengapa dia tidak bisa, bukan? Itu adalah ambisi yang sah-sah saja dan menjadi hak P sepenuhnya.

Tetapi segi-segi postif itu melèncèng menjadi negatif, karena dia menempuh cara-cara “preman” àla mafia. Untuk mencapai angan-angannya, dia menggalang komplotan kekuatan lewat unit-unit dan unsur-unsur tertentu dari dalam ABRI, dan mencoba menarik suatu kelompok sosial masyarakat, yaitu unsur-unsur Islam yang dapat dibelinya berkat akses dana yang sangat besar. Walau pun berpendidikan cukup yang seyogianya membuat dia bersikap matang dan lugas, emosi P tak terkendali dengan segala konsekwensi yang merugikan dirinya sendiri, seperti : avonturisme ugal-ugalan, berani beringasan tak karuan, tidak broadminded sehingga membuat perhitungan-perhitungan politiknya serba keliru.

Siapa dan bagaimana menilai W?
Dia pun berpendidikan tinggi dan cerdas, tetapi dia tetap menonjol sebagai orang Jawa dalam arti : tidak terbuka, tidak langsung berterus-terang, padanya melekat kemunafikan feodal Jawa. Apa yang dia ucapkan harus diterima dengan sikap bercadang, karena apa yang keluar dari mulutnya bisa ditafsirkan ke segala jurusan.

W maupun P mempunyai keterkaitan pribadi dengan Suharto. Yang pertama (W) oleh jabatannya sebagai bekas ajudan Suharto, yang kedua (P) karena perkawinan dengan anak Suharto.

W sebagai orang Jawa dan orang timur membikin keterkaitannya dengan Suharto menjadi lebih akrab dan lebih emosional – dia merasa berhutang-budi oleh katrol-katrolan Suharto yang mempercepat jenjang kariernya sampai ke pucuk pimpinan ABRI. Hutang budi ini tak pernah akan dia lupakan dan ini bisa mempunyai segi negatif dalam kariernya sendiri, karena sikap seperti itu bisa sekali menyelèwèng ke suatu loyalitas pribadi, sama sekali tidak lugas dan relevan lagi dalam fungsinya sebagai seorang perwira tinggi, apalagi sebagai panglima angkatan bersenjata.

Terbetik kabar bahwa sekitar 20 Mei 1998 yang lalu W ikut mengusulkan supaya Suharto melepaskan kepresidenannya. Hal ini dia lakukan atas perhitungan pragmatis justru untuk menyelamatkan Suharto dan keluarga – jadi bukan sebagaimana dituntut oleh mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR.

Beberapa menit setelah Suharto mengundurkan diri, langsung sudah kita mendengar “deal” yang telah dia bikin dengan Suharto. Tegas dia kemukakan : ABRI (atau W pribadi?) akan tetap menghormati dan melindungi Suharto dan keluarga. Apakah seluruh jajaran ABRI akan dia sèrèt untuk ikut memikul hutang-budi pribadi W kepada pribadi Suharto?

Seperti sudah disinggung di atas, bagi P prioritas paling utama yang dia kejar adalah jabatan pucuk pimpinan ABRI kemudian menjadi presiden -– dengan sendirinya dia juga mengingini posisi hegemonis ABRI di dalam politik tetap berlaku, akan tetapi hal itu bukan prioritas yang eksplisit menonjol dari P. Sebaliknya W bukan menolak kesempatan menjadi presiden, akan tetapi prioritas utamanya adalah mempertahankan posisi hegemoni militer di atas sipil! Ini berarti tetap mempertahankan dwifungsi ABRI. Betul bahwa dia pun secara verbal menyetujui reformasi, akan tetapi jelas dalam kandungan arti lain sama sekali dengan apa yang diperjuangkan rakyat dan mahasiswa. Hanya konsesi penyesuaian-penyesuaian tertentu yang bersedia dia lakukan, sifatnya bakal tidak mendasar dan tidak substantif. Mungkin saja varian-varian tertentu dalam pelaksanaan Dwifungsi ABRI akan muncul, akan tetapi varian-varian baru itu tidak akan mengusik essensi dan substansi hegemoni militer di atas sipil.

*Di Kutip Dari Berbagai Sumber
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Capres 2014, Antara Prabowo Dan Wiranto. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers