Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

16 March 2014

Sejarah Terminal Giwangan Yogyakarta

Giwangan adalah salah satu desa yang terletak dipinggiran kota Yogyakarta. Desa Giwangan dulunya sangat sepi. Sekitar tahun 80-an di selatan Giwangan dibangun Kompi Brimob Gondowulung. Dengan berdirinya Kompi Brimob Desa Giwangan semakin beerkembang perekonomiannya dengan berdirinya Perumahan, Kampus, Pasar Giwangan, Ring Road danTerminal Giwangan.

Dahulu terminal Yogyakarta berada di belakang Polsek Umbulharjo, Tahun 2002 Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta membangun terminal Giwangan dan tahun 2004 terminal tersebut beroperasi. Lokasi tempat terminal Giwangan dahulunya merupakan sawah yang luas dan juga merupakan tempat yang sangat strategis. Ditengah terminal ada pemakaman umum yang tidak bisa dipindahkan karena makam tersebut adalah makam tokoh masyarakat setempat.

Terminal Bus Giwangan
 Lokasi terminal Giwangan tidak jauh dari sebuah madrasah yaitu MTs Negeri Yogyakarta II. Sehubungan dengan adanya madrasah tersebut membuat kampung Mendungan sangat ideal bagi lokasi penyelenggaraan pendidikan. Namun seiring dengan kebijakan pemerintah Kota Yogyakarta, yakni dengan pembangunan terminal Giwangan, perubahan suasana kampung Mendungan mulai terasa. Hal ini terlihat dari mobilitas dan perubahan sosial serta tingkat kebisingan yang mulai terasa, Kenyamanan dan ketenangan yang sebelumnya begitu mendukung dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran lambat laun mulai terasa sekalipun belum begitu berpengaruh. Disisi lain perubahan dan perkembangan tersebut sebenarnya memberi dampak positif bagi Madrasah, karena akses untuk menuju ke Madrasah Tsanawiyah Negeri yogyakarta II semakin mudah.

Tahun 2006 Yogyakarta dilanda bencana gempa bumi yang mana terminal Giwangan juga tidak luput dari kerusakan, tetapi dapat diperbaiki sehingga bisa beroperasi hingga sekarang.

Gambaran Umum Terminal Giwangan

Sebagai ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta, kota yang tidak terlalu sibuk, kota yang bukan berbasis industri dan bisnis, tetapi pergerakan manusia dari kota dan ke kota ini cukup banyak terminal ini sangat bermanfaat. Pembangunan Terminal Penumpang Tipe A Giwangan Yogyakarta dilakukan sejak September 2002 dan selesai Agustus 2004 serta langsung diaktifkan pada bulan September 2004.

Pembangunan terminal terwujud dalam bentuk kerjasama operasional dengan sistem Built Operated Transfered (BOT) antara Pemerintah Kota dengan investor swasta PT Perwita Karya selama 30 tahun sejak September 2002 hingga September 2032. Kerjasama dengan bentuk Manajemen operasional terminal ditangani oleh Unit Pengelola Teknik Daerah (UPTD) Pengelola Terminal Dinas Perhubungan dan Manajemen sarana dan prasarana terminal dikelola oleh PT Perwita Karya yang mempunyai wewenang dan tujuan untuk menghasilkan keuntungan perusahaan melalui pemanfaatan sarana prasarana fasilitas penunjang dan tambahan terminal.

Pembanguan terminal ini dipimpin oleh Imanudin Azis. Terminal ini dibangun untuk menggantikan dan menutupi kekurangan terminal sebelumnya, yaitu terminal Umbulharjo yang telah bertahun-tahun melayani penumpang bus. Terminal Penumpang Yogyakarta atau yang juga disebut Terminal Giwangan dibangun di atas lahan seluas 5,8 ha di tepi Jl. Lingkar Selatan. Akses jalan sekitarnya dilayani oleh Outer Ring Road Selatan, Jalan Imogiri dan Jalan Gunomerico.

Terminal Giwangan mengikuti tata ruang Perda No. 6 Tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Untuk Kota (RTRUK). Sebagai satu-satunya terminal bertipe A di Yogyakarta, terminal ini mampu mengurangi kepadatan lalu lintas yang terjadi di pusat kota. Selain itu, kehadirannya di kawasan Giwangan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Sebagai terminal tipe A, terminal Giwangan menghubungkan beberapa kota besar di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Riau, dan Mataram, serta Bali dan Nusa Tenggara.

Bangunan terminal terdiri dari dua lantai. Lantai pertama difungsikan untuk aktivitas angkutan umum yang dibagi per wilayah dan jenis angkutan. Misalnya untuk angkutan AKAP diletakkan di ujung timur terminal dan AKDP di bagian tengah. Kemudian lantai kedua untuk aktivitas para pengguna jasa transportasi dan termasuk di dalam lantai dua, terdapat ruang tunggu dan berbagai fasilitas penunjang lain.



*Disarikan dari berbagai sumber.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Sejarah Terminal Giwangan Yogyakarta. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers