Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

21 January 2017

Sejarah Pasar Senen, Pasar Snees Di Jaman VOC

Malam ini saya akan menulis mengenani sejarah Pasar Senen. Ternyata, Pasar Senen di Jakarta Pusat sudah berulang kali terbakar. Kejadian terakhir terjadi pada Kamis, 19 Januari 2017 dengan sumber api dari los aksesori. Kebakaran itu cukup besar, sehingga membuat petugas pemadam secara situasional melarang para pedagang kembali untuk mengambil barang dagangannya. Embusan angin dan banyaknya warga yang menonton juga membuat upaya pemadaman sedikit terhambat. Bahkan hingga beberapa hari, upaya pemadaman di empat lantai Pasar Senen masih dilakukan.


Namun, bisakah Anda bayangkan bagaimana kondisi Pasar Senen pada awalnya di tahun 1770? Pasar Senen, yang merupakan pusat perbelanjaan terkemuka di Tanah Air, masih berupa kios bambu yang beratapkan rumbia. Pelukis Johannes Rach yang pernah melukis situasi di Pasar Senen memberi judul “Pasar Snees”. Snees adalah julukan orang Belanda terhadap orang Tionghoa. Pasar Senen, kala masih menjadi pasar tradisional pada 1960-an, memang sebagian besar pemiliknya merupakan orang Tionghoa.

Alwi Shahab dalam buku Maria van Engels, menuliskan saat itu menantu Habib Kwitang menyebut pada 1770 saat Rach melukis Pasar Senen, peristiwa pembantaian orang Tionghoa baru 30 tahun terjadi. Pada 1740, sekitar 10 ribu orang Tionghoa dibantai oleh pihak kolonial Belanda dalam suatu huru-hara di kawasan Glodok. Sejak saat itulah banyak dari kalangan ini yang menyingkir ke Pasar Senen dan Jatinegara.


Pasar Senen Dibangun Justinus Vink

Dalam catatan sejarah Pasar Senen dibangun oleh seorang tuan tanah kaya bernama Justinus Vink. Ia membangun Pasar Senen bersama dengan "saudara kembarnya," Pasar Tanah Abang, pada 30 Agustus 1735. Vink membeli lahan di Pasar Senen dari anggota Dewan Hindia bernama Cornelis Chastelein seharga 39 ribu ringgit pada 1733. Chastelein lantas menggunakan uang yang diperolehnya untuk membangun perkebunan di Srengseng Sawah, Lenteng Agung, serta Depok dan sekitarnya.

Pasar Senen sempat digadang-gadang menjadi trade center yang beroperasi selama 24 jam. Pasar ini diperbesar dan dibangun kembali pada 1826 setelah terjadi kebakaran. Lokasinya sangat strategis di antara kota kolonial dan pribumi, dengan beberapa perkampungan di dekatnya, serta bioskop dan gedung sandiwara. Pada saat itu Pasar Senen dijadikan objek penataan oleh Pemerintah Kota Jakarta. Listrik masuk setelah perang, dibangun kembali dengan gaya modernis di bawah presiden Soekarno pada 1960-an dengan nama mentereng: Proyek Pasar Senen. Setelah hancur selama kerusuhan Malari pada 1974, Pasar Senen kemudian dibangun kembali.

Jagoan Pasar Senen Diangkat Jadi Menteri Di Era Soekarno

Pada 1980, terminal bus di lapangan Banteng dipindahkan ke situ. Menyusul kemudian dibangun stasiun kereta api. Pasar Senen pun menjelma menjadi Segitiga Senen dengan pusat perbelanjaan, hotel mewah, kantor, dan menara apartemen di bekas Pecinan. Namun sayangnya, kegiatan ekonomi yang meriah di sana menimbulkan ekses negatif, yakni munculnya “sarang pencopet” di wilayah itu. Sekelompok preman Jakarta, yang dikenal sebagai Cobra dengan pemimpinnya Bang Pi’i alias Kolonel Syafei, malah dijuluki “Raja Copet.”

JJ Rizal, sejarawan Betawi, menyatakan itu bukan berarti Bang Pi’i adalah tukang copet pula. “Seperti terangkum dalam sketsa SM Ardan, bahwa ketika ada yang kecopetan lalu disuruh melapor ke Bang Pi’I, artinya Bang Pi’I ini jago yang ditakuti di wilayah Senen, sampai-sampai copet pun tunduk", begitu dalam sketsa SM Ardan.

Bang Pi’I melalui organisasinya, Cobra, memang berjasa besar menjaga keamaan Kota Jakarta di masa revolusi sampai-sampai Presiden Soekarno mengangkatnya sebagai menteri.

Pasar Senen Jadi Sarang Pencopet ini juga pernah ditulis Jerome Tadie dalam bukunya yang menulis "Wilayah Kekerasan di Jakarta (2009). Jerome Tadie menyebutkan di Senen, pencopet terutama terpusat di beberapa tempat tertentu. Mereka terutama mangkal di sekitar Blok 6 pada siang hari. Pada sore hari, pukul 17.00, mereka pindah ke terminal bus dan mangkal di ujung jalan masuk Pasar Senen, tempat yang paling ramai di situ. Kira-kira dua puluh pencopet bakal berkerumun di situ. Di terminal bus, para pencopet berada di dekat warung makan dan tempat parkir sebagian besar Metro Mini, dan bagian belakang terminal bus (sisi timur). Bahkan, Terminal Pasar Senen diibaratkan seperti sekolah pencopet. Nah itulah sedikit sejarah Pasar Senen yang saya kutip dari berbagai sumber.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Sejarah Pasar Senen, Pasar Snees Di Jaman VOC . Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers