Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

31 January 2017

Seandainya Presiden Soekarno Tidak Menghentikan Operasional Trem Di Jakarta

Pernahkah membayangkan bagaimana kakek-nenek atau buyut Anda berkendara di kota-kota besar di Indonesia di masa lalu? Tropenmuseum di Belanda menyimpan koleksi nostalgia ini. Tahun 1869, di Batavia sudah ada trem. Perusahaan Belanda, Bataviasche Tramweg Maatschappij BTM yang mengusahakan keberadaan trem ini. Trem di Batavia awalnya menggunakan tenaga kuda, yang dikendalikan kusir. Trem kuda digantikan trem uap tahun antara tahun 1881, lengkap dengan lokomotif dan ketel uap. Lalu muncul trem listrik pada tahun 1899. Jarak tempuh awal dari Kwitang ke Pasar Ikan. Pada awalnya jalan raya di Batavia masih lengang. Ketika trem listrik mulai digunakan, trem uap masih tampak di jalan-jalan. Seiring dengan perkembangan teknologi, beberapa trem tenaga uap secara bertahap semua berganti menjadi trem listrik. Tahun 1934 seluruh trem di Batavia beroperasi dengan listrik. 


Nah, bila melihat foto-foto sejarah khususnya tram di tropenmuseum saya berpikir, apa yang akan terjadi dengan Jakarta apabila pemerintahan Soekarno saat itu tidak mengeluarkan perintah untuk menghentikan operasi trem, atau setidaknya Sudiro berhasil membujuk Soekarno untuk menyisakan 1 Tram yang menghubungkan Jakarta Kota dan Jatinegara saat itu. Saya sangat yakin situasi di Jakarta akan sangat berbeda ketimbang kondisi yang kita alami saat ini. Tahun 1960 trem listrik di Jakarta harus berakhir, adalah Bapak Sudiro, Gubernur DKI Jakarta waktu itu atas perintah Presiden Soekano, menghentikan seluruh pengoperasian trem di Jakarta. Kala itu, Presiden menganggap trem sebagai biang keladi kemacetan, adalah suatu anomali bila sekarang pun Jakarta dengan bergantinya Gubernur dan beberapa peraturan daerah tidak cukup mampu mengatasi kemacetan yang semakin parah.


Setelah trem dihapus, bis kota makin banyak berseliweran di ibukota Jakarta. Salah satu alat tranportasi umum yang banyak digunakan masyarakat adalah Metro Mini. Emisi karbon dari mesin tak terawat menyemburkan polusi. Sering terjadi kecelakaan, akibat ulah supir yang ugal-ugalan. Presiden Joko Widodo menganggap Metro Mini kurang mengutamakan keselamatan penumpang.

 Kalau saya amati sejarah Trem di Jakarta, saya cukup takjub dengan bagaimana perencanaan transportasi di jaman itu bisa sekompleks apa yang saya lihat. Jaringan trem yang petanya mencakup seluruh wilayah Jakarta saat itu, dari Pasar Ikan di utara hingga Kampung Melayu di selatan. Terdiri dari 5 tramlijn yang menghubungkan daerah Tanah Abang, Menteng, Jembatan Lima, Gunung Sahari, dan juga Sawah Besar. Trem bisa menjadi kebanggaan Jakarta saat itu karena Tram di Batavia itu dibangun lebih dulu ketimbang kota besar di Belanda (Tram Kuda di Batavia tahun 1869, sementara di Amsterdam tahun 1875 dan Rotterdam 1879). Elektrifikasi Tram di Batavia dilakukan pada tahun 1933 dan yang saya baru tahu ternyata trem elektrik yang biasa kita lihat di gambar-gambar merupakan wagon tram uap yang dimodifikasi dengan pantograf. Sayang hampir semua peninggalan trem di Jakarta sudah hilang, tinggal monumen tram yang ada di depan Museum Fatahilah ataupun sisa sisa Remise Kramat. 


Mungkin sekarang membangun Trem di Jakarta tidak lagi memungkinkan mengingat Jakarta jalannya mayoritas sempit, dan juga sangat padat. Apalagi Jakarta sekarang sudah banyak proyek transportasi publik seperti BRT, MRT, LRT, ataupun KRL. Tapi saya sampai saat ini masih membayangkan apabila Trem kembali melintas didepan Stasiun Kota, Stadhuis / Museum Fatahilah, atau sampai Amsterdamschepoort (Gerbang Amsterdam) kalau dibangun ulang. Kalau pengembangan transportasi umum Jakarta terus berjalan baik, mungkin suatu saat nanti tram bisa reborn untuk rute pendek seperti Museum Bahari - Jalan Tongkol - Jalan Cengkeh - Lapangan Kota Tua - Jalan Kali Besar. Ya sekedar untuk wisata sejarah mengenang tram.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Seandainya Presiden Soekarno Tidak Menghentikan Operasional Trem Di Jakarta. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers