Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

30 January 2017

Gunung Purba, Bandung Dan Banjir

Berita banjir yang menerjang Bandung akhir-akhir ini mewarnai sejumlah halaman di beberapa media lokal dan nasional. Ya, banjir memang sering menggenang di beberapa titik wilayah Bandung, salah satunya stasiun kereta api Bandung. Bandung, kota indah nan romantis sehingga orang Belanda menyebutnya Paris van Java, kini tampak amburadul. Betapa tidak. Hujan yang mengguyur Bandung beberapa hari lalu, menyebabkan Paris van Java ini “nyaris tenggelam”. Bayangkan, Jalan Pasteur yang menjadi land mark Bandung sejak zaman baheula tergenang banjir. Padahal, selama ini, jalan legendaris tersebut tak pernah banjir.


Nah yang menarik bagi saya adalah sejarah dari berbagai situs dan salah satunya Wikipedia mengungkap jutaan tahun lalu Bandung pernah dibenam air karena dulunya berada di bawah permukaan air laut, jadi jangan heran jika Bandung bisa banjir. Bandung dulunya adalah sebuah gunung raksasa yang meletus kemudian menjadi kawah raksasa. Dan warga Bandung sekarang tinggal di kawah itu.

Sebagai bukti bahwa Wilayah Bandung pernah berada di bawah permukaan laut, ditunjukkan oleh temuan fosil pada perbukitan batu kapur sebelah barat Padalarang yang berupa terumbu binatang koral, binatang bersel satu `foraminifera` dan ganggang laut. Saat itu daerah Bandung utara merupakan laut, terbukti dengan banyaknya fosil koral yang membentuk terumbu karang sepanjang punggungan bukit Rajamandala. Kondisi sekarang, terumbu tersebut menjadi batukapur dan ditambang sebagai marmer yang berpolakan fauna purba.

Pada permulaan Zaman Plestosen (± 1 juta tahun lalu), beberapa kegiatan vulkanik di daerah utara Bandung sempat membentuk gunung api. Ukuran dasarnya selebar 30 km dengan ketinggian ±. 4.000 m. Gunung itu dikenal sebagai Gunung Sunda, sebuah gunung raksasa dengan sebuah kaldera di puncaknya. Sedangkan Gunung Burangrang hanya merupakan parasit gunung itu (Prof. Dr. Th. H.F. Klompe, “The Geology of Bandoeng”, 1956).

Dalam tulisan, geologiwan M. Purbohadiwidjojo mengemukakan pendapatnya, bahwa sebutan Gunung “Parahu” mungkin sudah dikenal orang sebelum letusan yang mengakibatkan terbendungnya Sungai Citarum (terbentuknya Danau Bandung). Nama gunung itu diberikan oleh manusia yang berdiam di sebelah selatan gunung. Dari arah itu gunung terlihat seperti “perahu”. Gunung Parahu yang membujur di utara Kota Bandung, baru mendapat imbuhan nama “tangkuban” di depannya, setelah gunung itu meletus.

Akibat terbendungnya Sungai Citarum Purba, maka terbentuklah Danau Bandung Purba alias “Situ Hiang”. Umumnya para geologiwan berpendapat, bahwa ketika bencana (catastrope) ledakan Gunung Parahu yang dahsyat terjadi, rupanya peristiwa itu disaksikan pula oleh manusia purba, penghuni Dataran Tinggi Bandung. Sisa akhir Danau Bandung yang masih bisa dikunjungi adalah Situ Aksan, terletak di wilayah barat Kota Bandung. Masih ada situ atau danau lainnya di kota, meski cuma tinggal nama, seperti Situ Aras, Situ Gunting, Leuwi Panjang dan Cisitu yang terletak di utara Kampus ITB.

Konon menurut catatan Forbes, pada tahun 1866 setengah abad setelah Kota Bandung berdiri (pindah dari Dayeuhkolot, 1811) orang masih sering menemui kawanan badak yang berkubang di Cisitu. Nah, kawasan Bandung dan sekitarnya bisa diibaratkan mangkuk bentukan bumi ratusan ribu tahun lalu. Bentangan alam itu biasa disebut Cekungan Bandung. Cekungan Bandung berbentuk elips dengan arah timur tenggara-barat laut, dimulai dari Nagreg di sebelah timur sampai ke Padalarang di sebelah barat. Jarak horizontal cekungan sekitar 60 kilometer. Adapun jarak utara-selatan sekitar 40 kilometer. Cekungan itu kian nyata jika dikaitkan dengan kurungan gunung di sekitarnya.

Cekungan Bandung dikelilingi oleh jajaran kerucut gunung api berumur kuarter. Hanya bagian barat Cekungan Bandung yang dibatasi batuan berumur tersier dan batu gamping. Penelitian sebelumnya menunjukkan pengendapan dalam Cekungan Bandung dimulai 126.000 tahun lalu, berupa batuan gunung api dan sedimen danau. Di antara tanah purba dan batuan sedimen terbawah Cekungan Bandung itu ada banyak lapisan abu gunung api sebagai penanda adanya kegiatan gunung api yang mengawali pembentukan Danau Bandung. Adanya aliran air Sungai Citarum yang terbendung akibat lontaran batuan Gunung Sunda disebut-sebut ikut mengisi cekungan raksasa itu.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Gunung Purba, Bandung Dan Banjir. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers