Sejarah Tambang Emas Grasberg Milik PT Freeport Indonesia Sejarah Tambang Emas Grasberg Milik PT Freeport Indonesia
Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

08 May 2019

Sejarah Tambang Emas Grasberg Milik PT Freeport Indonesia

Malam ini, blog widodogroho.com akan mengupas sejarah tambang emas Grasberg di Papua. Grasberg ini merupakan tambang emas terbesar di dunia milik PT Freeport Indonesia. Hal ini pun disampaikan juga oleh pak Jonan. Dalam media sosial Instagram miliknya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menuliskan, tambang Grasberg adalah tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga ketiga terbesar di dunia. "Tambang ini terletak di provinsi Papua di Indonesia dekat latitude -4,053 dan longitude 137,116, dan dimiliki oleh Freeport yang berbasis di AS (48,74%), Pemerintah Indonesia (51,23%). Operator tambang ini adalah PT Freeport Indonesia," tulis Jonan, Jumat (3/5/2019).

Sejarah Tambang Emas Grasberg Milik PT Freeport Indonesia

Nah, saya ingin mengupas sejarahnya karena tambang emas legenda Grasberg milik PT Freeport Indonesia di Papua akan habis kandungan mineralnya dan berhenti beroperasi pada pertengahan tahun 2019 ini. Sejarah tambang emas Grasberg ini saya kutip dari tiga buku yakni GRASBERG yang di tulis komisaris PT Freeport Indonesia, George A Mealey. Buku Grasberg ini diterbitkan tahun 1996. Sementara buku lainnya adalah JFK, Indonesia, CIA & Freeport Sulphur yang ditulis oleh Lisa Pease pada 1996 dan buku The Incubus of Intervention, Conflicting Indonesia Strategies of John F Kennedy and Allen Dulles karya Greg Poulgrain.

Sejarah Tambang Emas Grasberg Milik PT Freeport Indonesia

Sejarah Tambang Emas Grasberg Di Papua

Dalam sejarahnya, tambang Grasberg sendiri ditemukan setelah tambang Estberg. Lokasinya cukup tinggi, di atas ketinggian sekitar 4 ribu meter di atas permukaan laut. Sebelum mengeksploitasi Grasberg, Freeport menambang emas dan tembaga di Erstberg sejak 1972. Penemuan Erstberg ini berkat jasa penjelajahan Jean Jacques Dozy, A.H Colijn dan Franz Wissel pada 1936. Dozy bekerja di NNGPM sebagai Kepala ahli geologi minyak dan bumi. Colijn adalah manajer anak perusahaan Royal Ducth Shell yang dalam ekspedisi ke Puncak Cartensz ditetapkan sebagai pemimpin rombongan. Adapun Wissel merupakan pilot angkatan laut Belanda yang kemudian bekerja di Perusahaan Minyak Batavia atau Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Dia ditempatkan di Kalimantan untuk melakukan pemetaan udara.

Dalam catatan, geolog muda kebangsaan Belanda, Jean Jacques Dozy, pada 1936 bersama rombongan kecil mengembara Papua. Tujuan utama Dozy adalah mendaki gletser Cartensz yang ditemukan Jan Cartenszoon pada tahun 1623 saat menjelajah Papua. Dozy penasaran dengan temuan Cartensz mengenai puncak gunung yang tertutup salju di Papua. Laporan Cartensz ini sempat menjadi bahan olok-olok karena mustahil ada gletser di kawasan khatulistiwa. Sebelum ekspedisi, terlebih dahulu dilakukan survei udara. Jalur ekspedisi direncanakan dari pesawat.

"Suatu hari ketika kami mendapat pesawat udara amfibi tua jenis Sikorsky, kami melakukan penerbangan pengintaian dan melihat pegunungan, dan perlahan-lahan, satu per satu rencana mulai dikembangkan," kata Dozy kepada Poulgrain pada 1982.

Pada 23 Oktober 1936, Colijn dan Dozy meninggalkan Babo dengan Kapal Albatros menuju Aika, wilayah terisolir yang menjadi gudang Timah. Sementara Wissel menerjunkan pasokan logistik di Aika dengan dibantu sejumlah kuli pengangkut barang. Mereka bertiga kemudian mendaki Puncak Cartensz. Ada 38 orang dari Kalimantan yang menemani ketiganya. Namun hanya beberapa yang kuat bertahan karena memang medan yang terjal.

Di ketinggian 4 ribu meter Dozi, Colijn dan Wissel mencapai padang rumput sesuai dengan yang mereka lihat saat survei melalui udara. "Di situlah Dozy menemukan singkapan pegunungan yang dinamai Erstberg," tulis Poulgrain.

Dozy terpukau melihat pegunungan tanpa pepohonan atau tundra yang kemudian dia namakan Grasberg yang artinya Gunung Rumput.  Tidak jauh dari Gunung Rumput, Dozy membuat sketsa batuan hitam berbentuh aneh, menonjol di kaki pegunungan setinggi 3.500 meter. Batuan hitam itu dia namakan Erstberg yang artinya Gunung Bijih. Dalam penjelajahannya tersebut, Dozy juga mengambil batuan yang kemudian dikirim ke laboratorium. Hasil analisis serta penjelasan batuan diterbitkan dalam Jurnal Geologi Leiden tahun 1939. Namun sayang, perang dunia membuat laporan itu tak mendapatkan perhatian.

Kemudian, salah seorang eksekutif dari perusahaan tambang asal Amerika, Freeport Sulphur, menggali 'kekayaan' catatan Dozy pada 1959. Kebetulan pada saat itu, Freeport baru saja kehilangan pertambangan nikel di Kuba karena nasionalisasi perusahaan di bawah pimpinan Fidel Castro. Forbes K. Wilson, manajer eksplorasi Freeport Sulphur yang kemudian menjadi Presiden Director Freeport Mineral, mendapatkan informasi mengenai catatan Dozy dari Jan Van Gruisen, eksekutif dari perusahaan East Borneo Company. Informasi ini didapat pada Agustus 1959 saat Direktur Freeport Sulphur Forbes Wilson bertemu dengan Jan van Gruisen, managing director dari East Borneo Company yang merupakan perusahaan tambang di Kalimantan Timur.

Seperti dikutip dari Real History Archives dalam artikel yang berjudul JFK, Indonesia, CIA & Freeport Sulphur yang ditulis oleh Lisa Pease pada 1996, dalam pertemuan tersebut, Gruisen menceritakan, dirinya baru menemukan laporan yang ditulis Jean Jacques Dozy mengenai sebuah gunung yang disebut "Ertsberg" atau Gunung Tembaga di Papua Nugini, Irian Barat.

Laporan itu menyebutkan bahwa di wilayah tersebut terdapat gunung yang penuh bijih tembaga. Bahkan, kandungan bijih tembaga yang ada di sekujur tubuh Gunung Ertsberg terhampar di atas permukaan tanah, dan tidak tersembunyi di dalam tanah.

Kemudian, Wilson sangat tertarik untuk mengeksplorasi Erstberg. “Saya akan melihat sendiri Erstberg dan akan berusaha sampai mati,” kata Wilson seperti tertulis dalam buku Gresberg. Freeport pun tak tanggung-tanggung membiayai ekspedisi dan eksplorasi Wilson senilai US$120 ribu. Nilai itu setara lebih dari US$1 juta dolar untuk saat ini.

Meski saat itu Wilson berusia 50 tahun, dia bertekad berhasil mencapai Gunung Bijih yang berwarna hitam. Menurut buku tersebut, sebagai persiapan ekspedisi, Wilson menghentikan kebiasaan merokok yang sudah 30 tahun dan menerima imunisasi dari hampir semua penyakit yang pernah dikenal manusia. Dia juga melatih diri hidup di hutan rimba dan pegunungan tinggi yang dingin. Penjelajahan Wilson dibantu beberapa ahli seperti geolog, insinyur, botanis serta perwira polisi. Wilson membuat catatan khusus perjalanannya dalam buku The Conquest of Cooper Mountain.

Penjelajahan Wilson dan tim berhasil memastikan cadangan bahan tambang berharga di Erstberg. Pada masa awal ditemukan, diperkirakan adanya cadangan 33 juta ton bijih besi dengan kandungan tembaga sebesar 2,5 persen. Freeport pun langsung memutuskan untuk meneken kontrak eksplorasi dengan East Borneo Company pada 1 Februari 1960. Namun, nyatanya terjadi perubahan eskalasi politik di Indonesia, khususnya Irian Barat. Hubungan Indonesia dan Belanda pun kembali memanas, bahkan Soekarno (Presiden RI saat itu) justru menempatkan pasukan militernya di Irian Barat.

Perjanjian kerja sama antara East Borneo Company dan Freeport pun kembali mentah. Pemerintahan AS yang saat itu dikuasai John F Kennedy (JFK) justru membela Indonesia, dan mengancam akan menghentikan bantuan Marshall Plan kepada Belanda jika tetap ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu membutuhkan bantuan untuk membangun kembali negaranya pasca kehancuran di Perang Dunia II, terpaksa hengkang dari Irian Barat.

Para petinggi Freeport pun geram, terlebih saat mendengar JFK justru menawarkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar USD 11 juta, dengan melibatkan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank.

Perbedaan pendapat publik di Senat AS bergolak, apakah terus membantu Indonesia sementara Partai Komunis di Indonesia tetap kuat. Kennedy pun tetap bertahan, dan dia menyetujui paket bantuan khusus untuk Indonesia pada 19 November 1963. Namun tiga hari kemudian, Soekarno kehilangan sekutunya. Kennedy mati terbunuh pada 22 November 1963.

Kebijakan luar negeri AS berubah cepat setelah kematian Kennedy. Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy secara tiba-tiba membatalkan paket bantuan ekonomi untuk Indonesia yang telah disetujui Kennedy. Dikabarkan, salah seorang di balik keberhasilan Johnson dalam kampanye pemilihan Presiden AS 1964 adalah Augustus C Long yang merupakan salah seorang direksi Freeport.

Long juga menjadi pemimpin di Texas Company (Texaco) serta Caltex (joint venture dengan Standard Oil of California). Augustus C Long juga aktif di Presbysterian Hospital, New York yang merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA. Selain itu, Long juga diyakini menjadi salah satu tokoh perancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat (AD), termasuk Jenderal Soeharto (Presiden RI ke-2) yang disebutnya sebagai "our local army friend".

Dugaan keterlibatan Long dalam kudeta Soekarno muncul, lantaran Soekarno pada 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60% labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex, sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini. Kudeta terhadap Soekarno akhirnya benar-benar terjadi.

Pasca lengsernya Soekarno dari tampuk kepemimpinan tertinggi di Indonesia, Ibnu Sutowo (Menteri Pertambangan dan Perminyakan saat itu) membuat perjanjian baru, yang memungkinkan perusahaan minyak untuk menjaga keuntungan lebih besar secara substansial untuk mereka.

Kemudian, dilakukanlah pengesahan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA). Pada 7 April 1967, pemerintah Indonesia melakukan penandatanganan kontrak izin eksploitasi tambang di Irian Jaya dengan Freeport.

Freeport memproses perizinan dengan mendapatkan bantuan dari Julius Tahija yang berperan sebagai perantara. Menurut buku Gresberg, Julius yang mengatur pertemuan antara pejabat Freeport dengan Menteri Pertambangan dan Perminyakan Indonesia, Ibnu Sutowo di Amsterdam. Selain itu, Freepot juga menyewa pengacara Ali Budiarjo yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal dan Pertahananan Direktur Pembangunan Nasional pada 1950an. Berkat bantuan Ali, Freeport menjadi perusahaan yang pertama kali mendapatkan Kontrak Karya dengan masa 30 tahun, setelah lahirnya Undang-Undang Penanaman Modal pada 1967. Belakangan Ali didaulat sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia pada 1974-1986.

Kontrak Freeport Indonesia pertama kali ditandatangani pada 1967 berdasarkan UU Nomor 11 tahun 1967 tentang ketentuan pertambangan. Kontrak karya yang diteken pada awal masa pemerintahan Presiden Soeharto itu diberikan kepada Freeport sebagai kontraktor eksklusif tambang Erstberg di atas wilayah 10 km persegi. Pada 1989, pemerintah Indonesia kembali mengeluarkan izin eksplorasi tambahan untuk 61.000 hektar.

Eksplorasi Grasberg

Pada tahun 1980, Freeport bergabung dengan McMoran, perusahaan eksplorasi minyak dan gas yang dipimpin James Robert Jim Bob Moffett. Perusahaan kemudian berganti nama menjadi Freeport McMoran dengan Freeport Indonesia sebagai anak usaha.

Sejak Moffet ditunjuk sebagai pimpinan Freeport McMoran pada 1984, Moffet memerintahkan seluruh jajaran Freeport meningkatkan eksplorasi. Hal tersebut dilakukan karena cadangan Erstberg diperkirakan habis pada 1987. Eksplorasi pertama dilakukan geolog Dave Potter dengan meneliti Grasberg. Potter dan rekan-rekannya mengebor gunung dengan kedalaman 200 meter pada 1985. Namun, hasil pemboran pertama itu tidak meyakinkan.

Kemudian pada 1987, Potter mendarat dengan helikopter di atas puncak gunung dan mulai mengumpulkan contoh batuan permukaan. Hasil analisis laboratorium menyatakan batuan mengandung emas dengan kadar yang sangat tinggi. Moffet pun mendorong pemboran di Grasberg. Pada akhir 1980-an, Mealey turut bergabung dengan Potter membuat beberapa lubang bor.

Dari pengalaman eksplorasi, tulis Mealey, Grasberg berbeda dengan puncak-puncak yang mengelilinginya. Grasberg yang ketinggiannya lebih rendah, memungkinkan pepohonan besar tumbuh, tetapi dalam kenyataannya vegetasi yang tumbuh di atas permukaan hanyalah sejenis rumput kasar. “Anomali vegetasi ini yang merupakan indikasi yang dicari para geolog,” tulis Mealey.

Menurut Mealey, pertumbuhan pohon dan semak di Grasberg terhalang oleh tanah yang bersifat asam, tetapi tidak menjadi masalah bagi jenis rumput kasar untuk tumbuh.

“Keasaman tanah adalah hasil proses pelindian alam terhadap mineral-mineral sulfida yang mengandung tembaga dan emas,” tulis Mealey.

Pengetahuan di atas merupakan kesimpulan yang diperoleh belakangan. Namun, lanjut Mealey, banyak anomali vegetasi seperti itu terjadi di dunia, tetapi tidak selalu berkaitan dengan mineralisasi komersial seperti di Grasberg.

Pemboran di Gunung Grasberg dilakukan di lima titik dimulai dari bagian puncak. Empat lubang pertama menunjukkan kadar emas dan tembaga, namun tidak terdapat konsentrat endapan emas. Hasil pemboran ke lima membuat Freeport terkesima karena dari 611 meter kedalaman bor, 591 meter menembus lapisan bijih yang mengandung kadar tembaga 1,69 persen dan kadar emas 1,77 gram per ton.

Sejarah Tambang Emas Grasberg Milik PT Freeport Indonesia

“Hasil pemboran ini dianggap yang paling hebat yang pernah ada dalam sejarah industri pertambangan,” tulis Mealey.

Baca Juga: Jalan Panjang Divestasi PT Freeport Indonesia

Beralih Ke Tambang Bawah Tanah

Grasberg mulai dieksploitasi pada 1988, pada 1995, cadangan Grasberg sebanyak 40,3 miliar pon tembaga dan 52,1 juta ons troy emas. Grasberg yang dieksplorasi sejak tahun 1980an lama kelamaan pun habis. Namun bukan berarti Freeport kehabisan materi untuk diolah. Sebab, tambang raksasa asal Amerika Serikat (AS) ini akan beralih kepada eksplorasi tambang bawah tanah dengan sistem block caving. Mengitip laporan keuangan PT Freeport Indonesia yang bisa di download di https://drive.google.com/file/d/1YWIqeArCc4fTVnW4tK9TrzBIXBwCAgRJ/view?usp=drivesdk Freeport ini akan beralih kepada eksplorasi tambang bawah tanah dengan sistem block caving.

Keenamnya yakni Grasberg open pit (tambang terbuka), Deep Ore Zone (DOZ), Deep Mill Level Zone (DMLZ), Big Gossan, Grassberg Block Cave (GBC), dan Kucing Liar.

Selain Grasberg open pit, kelima tambang lain yang ada di Grasberg hanya bisa dieksplor dengan cara menggali bawah tanah. Apalagi dari keenam itu, GBC-lah yang memiliki tembaga dan emas terbesar. Cadangannya mencapai 963 juta metrik ton dengan kandungan yang terdiri dari 1,01 persen tembaga, emas 0,72 gram per metrik ton, dan perak sebanyak 3,52 gram per metrik ton.

Cadangan terbesar kedua ada di DMLZ, yakni sebanyak 437 juta metrik ton dengan kandungan tembaga 0,91 persen, emas 0,75 gram per metrik ton, dan perak 4,39 gram per metrik ton. Ketiga adalah Tambang Kucing Liar yakni 360 juta metrik ton yang terdiri dari 1,25 persen tembaga, emas 1,07 gram per metrik ton, dan perak 6,48 gram per metrik ton. Hingga posisi terakhir ditempati oleh tambang Grasberg open pit dengan 34 juta metrik ton.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Sejarah Tambang Emas Grasberg Milik PT Freeport Indonesia. Ikuti saya di
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih
Loading...

Followers