Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

26 December 2015

Masjid dan Gereja Berdampingan Menjadi Simbol Toleransi Di Malang

Di media sosial banyak dipertontonkan pemandangan dua agama yang saling berseteru. Bahkan jika menilik lebih dalam ke situs-situs keagamaan di dunia maya banyak diisi oleh perang cacian antar pemeluk agama. Hal ini sangat miris mengingat masing-masing agama sebenarnya mengajarkan nilai-nilai toleransi pada pemeluk agama lain. Terlepas dari berbagai masalah yang melibatkan agama, ternyata ada daerah yang memiliki sifat toleransi agama yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya bangunan masjid sebagai tempat ibadah umat Islam yang berdampingan dengan gereja, tempat ibadah orang Kristen dan Katolik. Melihat hal tersebut membuat hati menjadi damai. Salah satu masjid yang berdampingan dengan gereja adalah Masjid Agung Jami’ dan Gereja Immanuel Berdampingan Di Malang.


Tepatnya di jantung kota Malang terdapat dua tempat ibadah beda agama yang dibangun berdampingan, yaitu masjid Agung Jami’ dan GPIB Immanuel. Dua tempat ibadah ini telah berdampingan selama lebih dari 100 tahun dan menjadi bukti bahwa warga kota Malang telah memiliki toleransi beragama yang tinggi jauh sebelum Indonesia merdeka.

Apabila Anda yang sedang jalan-jalan di kota Malang, Anda bisa menjumpai dua tempat ibadah ini di depan alun-alun kota. Masjid Agung Jami’ dibangun pada tahun 1875 sedangkan Gereja datang dari tahun 1861. Uniknya selama ratusan tahun berdampingan tidak pernah ada percekcokan di antara kedua pemeluk agama ini. Sungguh damai bukan melihat keadaan yang demikian?

Meski lokasi gereja dan masjid berdekatan namun tak pernah terjadi gesekan. Meski di masjid jami digelar pengajian, namun umat kristiani mengaku tak terganggu dengan pengeras suara yang keluar dari masjid. "Tak mengganggu. Jemaat tetap bisa berkonsentrasi berdoa," ujar Erick.

Menjelang natal 2015 ini, Majelis Jemaat GPIB Immanuel berkirim surat kepada Takmir Masjid Agung Jami'. Surat berisi pemberitahuan jika pelaksanaan ibadah natal dan tahun baru bertepatan dengan salat Jumat. Majelis jemaat menyelenggarakan ibadah pada 08.00-10.30 WIB, sehingga tak mengganggu ibadah salat Jumat.


Surat ditandatangani Ketua Majelis Jemaat, Pendeta Emmawati Y. Boule dan Sekretaris Pendeta Marthen Seipattiseum. Kedua pengurus rumah ibadah tersebut secara intensif berkomunikasi untuk urusan ibadah. Tujuannya untuk mewujudkan toleransi dan merawat keberagaman.

"Kami senantiasa rukun dan membangun toleransi," ujar Erick. Kadang keduanya berkegiatan bersama untuk menjaga kerukunan. Seperti doa bersama lintas iman. Kadang Majelis Jemaat diundang dalam kegiatan Masjid Jami'. Saat salat Idul Fitri jamaah membludak, pelataran gereja yang dibangun 1861 ini juga digunakan salat.

Ketua Ta'mir Masjid Jami' Malang, Zainuddin A. Muhit menjelaskan kerukunan umat harus terus dijaga dan dirawat. Bahkan harus diturunkan ke generasi berikutnya. "Selama bertetangga hubungannya baik, tak ada gesekan," ujarnya.

Pada salat Idul Adha lalu yang bertepatan dengan hari Minggu, Takmir Masjid menyampaikan terimakasih dan permohonan maaf kepada jemaat. Karena demi menghormati umat muslim yang menunaikan salat Idul Adha, jadwal kebaktian GPIB Immanuel mundur.

Sedangkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini menghadirkan Kiyai Haji Harun Ismail dari Blitar. Serta kesenian hadrah dari Batalyon Infanteri 512. Para prajurit TNI bakal tampil mengenakan seragam militer lengkap.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Masjid dan Gereja Berdampingan Menjadi Simbol Toleransi Di Malang. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers