Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

21 December 2015

Kita Bebas Memposisikan Tuhan Sebagai Orang Ketiga, Kedua, Pertama Atau Mana Saja

Bila kita menyebut Tuhan kita harus sepakat bahwa Tuhan yang sesungguhnya tidak terumuskan dan tidak perlu kita perdebatkan karena Dia tidak terjangkau oleh alat apapun dalam kehidupan, pikiran, intelektualitas, terminologi, ilmu kita. Yang kita kenal tentang tuhan adalah informasi-informasi dari kitab suci dan yang kita bayangkan / apresiasikan. Sedangkan menurut tuhan sendiiri di dalam kitab suci Ia menjelaskan bahwa tuhan tidak seperti apapun. Sedangkan hakikatnya tidak ada orang atheisme atau yang tidak mengakui tuhan. Sebenernya atheis-atheis itu bukanlah tidak mengakui tuhan, hanya saja mereka menolak untuk percaya konsep-konsep ilmu, sejarah, pengetahuan tentang tuhan dari apa yang ia pernah dengar atau pelajari. Setiap orang sadar atau tidak sadar mengakui ada kekuatan yang tidak terjangkau oleh kekuatan manusia dan selama manusia mengakui ada kekuatan ekstra di luar dirinya yang berkuasa dalam dirinya sesungguhnya ia sedang bersentuhan dengan realitas tuhan, meskipun sampai akhir hayatnya mungkin saja orang itu tidak menyebutnya sebagai tuhan.


Sebagai umat Muhammad kita bebas memposisikan Tuhan. Maka dari itu Tuhan sering kali kita manifestaiskan dalam kehidupan kita dalam beberapa posisi dan berbagai aspek kehidupan sejak jaman dahulu:

Pengalaman Ibrahim AS ketika ekstase memposisikan Tuhan sebagai orang ketiga dengan menyebut kata “DIA”, baik kepada bintang, bulan, maupun matahari, sebelum akhirnya menemukan Tuhannya.

Pengalaman Musa AS ketika ekstase memposisikan Tuhan sebagai orang kedua, sehingga menyebut Tuhan dengan sebutan ENGKAU..

Pengalaman Isa AS ketika ekstase memposisikan Tuhan sebagai orang pertama, sehingga menyebut Tuhan dengan sebutan AKU.. (Tuhan sebagai orang pertama, sedangkan diri Isa AS sendri sebagai tidak ada).

Sedangkan umat Muhammad SAW bisa di posisi manapun dari ketiganya.

Demikian ungkapan yang saya dapat dari Cak Nun sekitar tahun 1996 dan juga dari berbagai refensi.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Kita Bebas Memposisikan Tuhan Sebagai Orang Ketiga, Kedua, Pertama Atau Mana Saja. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers