Pin It

08 June 2020

Posted by Widodo Groho Triatmojo on 00:05

Mengapa Rusia Tidak Menganut Paham Komunis Seperti Era Uni Soviet?

Suatu hari saya dan teman ngopi bareng dan membahas tentang Rusia. Obrolan kita membahas mengapa Rusia tidak melanjutkan paham komunis yang dulu sempat dianut Uni Soviet. Sebenarnya jawabannya cukup mudah tapi kalau dibahas cukup panjang. Kunci kenapa Rusia tidak menganut paham komunis ada pada Presiden pertama Rusia, Boris Yeltsin dan pebisnis sekaligus arsitek ekonomi era Yeltsin yakni Anatoly Chubais. 

Mengapa Rusia Tidak Menganut Paham Komunis Seperti Era Uni Soviet?
Anatoly Chubais Dan Boris Yeltsin (Alamy Stock Photo)

Pada era kepemimpinan Mikhail Gorbachev, pemimpin terakhir Uni Soviet (1985–1991), kedua orang ini bekerja di bidangnya masing-masing. Yeltsin, menjabat sebagai walikota Moscow semetara Chubais menjadi salah satu ekonom ternama di Leningrad atau St. Petersburg. Meski keduanya belum pernah bertemu, namun sama-sama memiliki satu visi kalau Perestroika, program reformasi ekonomi Gorbachev, terlalu lambat dan tidak efektif. Terutama Yeltsin setelah kunjungan dinas ke Amerika tahun 1989. 

Dikutip dari buku The Spice of Life karya Leon Aaron (2000)

Di perjalanan kembali (dari Texas) ke Miami, ia (Yeltsin) terdiam, tangannya memangku kepalanya, "Apa yang telah kita lakukan kepada rakyat kita yang miskin?" Sebutnya setelah terdiam lama. Dalam perjalanan pulangnya ke Moscow, Yeltsin menyebutkan rasa sakit yang ia rasakan setelah dinas ke Houston (Texas): 
"rasa sakit kita semua, bahwa negara kita yang kaya, yang penuh talenta besar, tapi juga yang sudah lelah dengan eksperimentasi (ekonomi Perestroika) yang tak kunjung berakhir" Yeltsin pun menambahkan "Saya rasa kita telah melakukan tindakan kriminal terhadap rakyat kita sendiri, karena kita membiarkan standar hidup mereka jelas jauh dibawah standar Amerika."

Setelah pembubaran Uni Soviet di penghujung tahun 1991, Yeltsin menjadi presiden Rusia. Setelah menjabat sebagai presiden Rusia, Yeltsin segera membentuk tim pembangunan ekonomi untuk mewujudkan ide liberalisasi dan privatisasinya. Nah, salah satu ekonom didalam tim ini ialah Chubais.

Chubais pun ditunjuk Yeltsin sendiri sebagai Kepala Rosimushchestvo di tahun 1992 (Komisi Pengelola Aset dan Properti Negara) yang walaupun namanya rumit, sebenarnya cukup besar portfolionya, mengingat semua BUMN Rusia tunduk kepada badan ini. Apalagi pada saat itu hampir semua usaha di Rusia adalah terusan dari BUMN Soviet. Penggambaran mudahnya, Chubais menjabat seperti menteri BUMN di Indonesia. 

Voucher Saham 

Mengutip majalah Tempo, salah satu proyek pertama Chubais adalah program "voucher saham" yang juga didukung penuh oleh Yeltsin sendiri. Lewat program ini, para pekerja BUMN Rusia (yang berarti hampir seluruh penduduk Rusia) diberikan voucher 10.000 Rubel (sekitar 25 USD atau Rp 350 ribu sekarang) yang dapat ditukarkan saham tempat mereka bekerja - sebagai bentuk transisi karena di masa komunis Soviet secara teori BUMN dimiliki oleh semua pekerjanya. Yeltsin pun juga menyebutkan program ini sebagai bagian dari usaha me-redistribusi aset negara kepada rakyatnya, dan mempercepat privatisasi (tumbuhnya usaha swasta) di ekonomi Rusia. 

Mengapa Rusia Tidak Menganut Paham Komunis Seperti Era Uni Soviet?
Voucher Saham

Sayangnya, impian keduanya tidak sesuai harapan. Di tahun 1991 sendiri, PDB Rusia turun lebih dari 15% sementara inflasi mencapai 16%. Imbasnya banyak orang yang memilih untuk menjual vouchernya tersebut. Disinilah awal mula tumbuhnya para Orang Kaya Baru (OKB) Rusia yang kita tahu seperti pemilik klub Chelsea, Roman Abramovich. Para oportunis ini biasanya memiliki beberapa tabungan (aman dari krisis ekonomi) lalu membeli banyak sekali voucher ini dari pekerja biasa, sebelum kemudian secara besar-besaran membeli saham mayoritas BUMN-BUMN pertambangan Rusia. Selama kepemimpinan Yeltsin, PDB per kapita Rusia turun hampir 40% (sumber: The Post-Soviet Union Russian Economy).

Mengapa pemerintahan Yeltsin mampu bertahan? 

Nah, tahun 1996 ini lah yang bisa dikatakan mengubah ekonomi & politik Rusia hingga sekarang. Saat itu Partai Komunis Rusia (PKRF), sebagai oposisi pemerintah, sedang kuat-kuatnya. Pada waktu itu Gennady Zyuganov, pemimpin partai komunis, menyatakan dirinya akan menantang Yeltsin di pemilu tahun 1996 tersebut. Zyuganov dan PKRF membuat sebuah kampanye yang mengingatkan orang-orang tentang stabilitas era Soviet, dimana harga-harga tidak melambung tinggi, gaji dan pengangguran pun bukan sebuah masalah. Kalau dipikir-pikir tidak jauh dengan yang terjadi di Indonesia dan sering kita jumpai stiker di bokong truk dengan tulisan "Piye kabare…. Penak Jamanku To" 

Mengapa Rusia Tidak Menganut Paham Komunis Seperti Era Uni Soviet?
Lukisan bokong truck: Piye Kabare.... Penak Jamanku To?

Hal tersebut cukup sukses, tingkat elektabilitas Zyuganov berada diatas Yeltsin di awal tahun dan lampu kuning pun mulai menyala di tim kampanye Yeltsin. Saat itulah Yeltsin memerintahkan Chubais untuk menjadi ketua tim kampanyenya, dan keduanya membuat sebuah strategi baru yakni: Privatisasi jilid 2: "Loan For Shares" atau "cari pinjaman, jual saham". 

Chubais & Yeltsin mengumpulkan para bankir dan investor yang sudah mulai "kaya" berkat privatisasi voucher sahamnya di tahun 1992, dan mengatakan bahwa mereka bisa memiliki lebih banyak lagi saham kepemilikan BUMN-BUMN yang sudah sebagian swasta tersebut; dengan syarat memberikan pinjaman pada negara. Yeltsin sendiri sempat menyatakan di depan para bankir. 

"Bankir Rusia sebaiknya ikut turun berpartisipasi dalam kehidupan politik. Lagipula Bank, seperti halnya semua bagian masyarakat Rusia, sedang belajar berdemokrasi." (Sumber: Loans for shares scheme

Yeltsin, Chubais dan pemerintah pun mendapatkan uang yang sangat besar hingga mampu untuk membayarkan beberapa pensiun dan sebagian program bantuan sosial era Soviet yang dielu-elukan Zyuganov dan partai komunisnya. Walhasil, popularitas Yeltsin pun terselamatkan dan akhirnya ia memenangkan pemilu tersebut. 

Prof. Marshall Goldman, ekonom spesialis Rusia dari Harvard menyatakan, program "loan-for-shares" ini menjual beberapa BUMN Rusia (terutama perminyakan dan tambang) dengan harga yang jauh dibawah valuasi pasar - contohnya Boris Berezovsky, salah satu Oligark/Konglo utama pendukung Yeltsin, berhasil menguasai mayoritas Sibneft - perusahaan gas negara yang nantinya menjadi Gazprom, dengan biaya $100 juta, jauh dibawah valuasi pasar seharga $3 Milyar. 

Dan sejak 1996 itulah dimulai sebuah sistem politik (yang juga dilanjutkan selama era Vladimir Putin sekarang) dimana:

- Para bankir/investor membiayai besar-besaran kampanye capres/caleg pro-bisnis.
- Caleg/capres/cagub pro-bisnis syaratnya pun juga mudah: asalkan bukan orang komunis atau haluan kiri lainnya yang ingin menjanjikan lebih banyak program sosial, stabilitas, dan kendali ekonomi negara era Soviet. 

Dan akhirnya PKRF yang tadinya di tahun 1990an menjadi salah satu partai terbesar, sekarang hanya partai oposisi yang mendulang 9–10% suara saja.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Terima Kasih

Followers

Follow by Email