Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

25 April 2015

Memahami Batuan Purba Karangsambung Kebumen Berdasarkan Teori Tektonik Lempeng

Tersebutlah dua karang raksasa bersambung menciptakan konsep baru ilmu kebumian. Dari sana kemudian lahir ribuan ahli geologi Indonesia, di Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah.
Karangsambung terletak 19 km di utara kota Kebumen, Jawa Tengah. Di daerah Karangsambung inilah terhimpun beraneka jenis batuan, berukuran kerikil hingga sebesar bukit, yang berasal dari sejarah dan umur yang berbeda-beda. Batuan yang terhimpun ini bercampur aduk sedemikian rupa oleh proses geologi selama kurun waktu dalam skala jutaan tahun. Campur aduk batuan yang demikian rumit itu diberi istilah “mélange”. Namun sesungguhnya, batuan itu berasal dari kelompok batuan pembentuk lempeng benua dan pembentuk lempeng samudera. Bahannya tentu saja berasal dari dalam perut bumi sendiri. Bagaimana batuan lempeng samudera dan batuan lempeng benua bercampur menjadi satu, dapat dijelaskan dengan teori tektonik lempeng.




Menurut teori tektonik lempeng, kulit bumi tersusun oleh lempeng-lempeng yang bersifat mobile, bergerak satu sama lain saling menjauh, berpapasan atau bertabrakan. Kecepatan pergerakan lempeng ini diketahui rata-rata 10 cm per tahun. Bila dua lempeng bertabrakan pada zona pertemuan dua lempeng, terjadi akumulasi batuan berasal dari kedua belah pihak, batuan lempeng benua dan batuan lempeng samudera. Bukti-bukti adanya pertemuan antara lempeng benua dengan lempeng samudera, salah satu yang terkenal di dunia dapat kita jumpai di daerah Karangsambung itu.


Penemuan pertama batuan tua di Karangsambung yang disebut sebagai batuan Pra-Tersier di Pulau Jawa ini dilaporkan oleh peneliti geologi Belanda, R.D.M. Verbeek dan R. Fennema pada 1881. R. Fennema - yang membantu R.D.M. Verbeek - merasa beruntung untuk pertama kali menemukan “tanah dasar Pulau Jawa,” yaitu batuan, di atas mana terletak batuan sedimen dan batuan gunung api yang lebih muda. Sedangkan tulisan R.D.M. Verbeek, 1891, menyangkut penemuan fosil Nummulites dan Orbitulina dari Luk Ulo, Jawa Tengah. Setelah hampir 100 tahun kemudian batuan tua itu diukur umurnya, dan menunjukkan angka 117 juta tahun (Ketner, dkk., 1976). Setelah daerah ini dipetakan oleh Ch.E.A. Harloff (1933), baru setelah Perang Dunia Kedua daerah ini kembali menjadi objek penelitian (Tjia, 1966; Asikin, 1974). Sukendar Asikin adalah orang pertama yang mengulas geologi daerah Karangsambung berdasarkan Teori Tektonik Lempeng.

MENJELAJAH KE LANTAI SAMUDERA PURBA
Nah, untuk menikmati pesona Karangsambung, kita perlu lebih dulu melafalkan “mantera” yang dilontarkan oleh Albert Heim (1849-1937), ahli geologi Swiss. Bunyi mantera itu, “Memandangi alam permai dengan mata yang mengandung pengertian, jauh lebih memberikan kesenangan dan kepuasan hati daripada hanya menyaksikan keelokannya.”

Banyak cara untuk menikmati pesona Karangsambung. Bagi yang sudah terbiasa mendaki bukit, dengan rombongan kecil bisa langsung menuju lokasi titik-titik singkapan geologi. Bagi rombongan pemula, bisa memperoleh informasi dan bantuan petunjuk di Kampus LIPI Karangsambung. Ada banyak lokasi menarik yang bisa dikunjungi, namun tidak semua diulas di sini. Beberapa bentukan alam yang baik diamati dan mudah dijangkau, diantaranya adalah seperti berikut; 

1. Duet batu basal dan rijang-batugamping
Di Kali Muncar, Kecamatan Sadang terdapat lava basal berbentuk seperti sekumpulan bantal yang bertumpuk (pillow structures). Batuan ini berdampingan dengan batuan berlapis selang seling antara batuan yang disebut rijang dengan batu gamping merah. Duet batu basal dengan rijang batu gamping ini adalah ciri batuan berasal dari kepingan lantai samudera. Sambil berdiri di atas lantai samudera purba ini, bolehlah kita sejenak mengheningkan cipta, betapa dahsyat dan megahnya proses alam membawa bagian lempeng samudera dari jarak ribuan kilometer di belahan bumi bagian selatan hingga terdampar di Karangsambung. Di dalam batu rjang ini terdapat makhluk renik bernama Radiolaria yang telah menjadi fosil, yang menunjukkan ia pernah hidup antara 80 juta dan 140 juta tahun yang lalu. Berdasarkan fosil Radiolarian itulah umur batu rijang itu diketahui.
Lava Bantal Di Kali Muncar
2. Sekis Mika
Batuan yang disebut “tanah dasar Pulau Jawa” ini tersingkap di Kali Brengkok. Batuannya disebut sekis mika (Mica Schist) sesuai dengan mineral utamanya yaitu mika. Mineral mika biasa dipergunakan pada alat strika listrik, tempat elemen pemanas dililitkan. Pecahan batuan sekis mika dari Kali Brengkok ada yang terbawa arus sampai ke sungai utama, Sungai Luk Ulo. Anak-anak sering menggerus batu ini dan sebagai mainan menempelkannya ke pipi untuk memberikan efek berkilau (layaknya glitter make up).
Tiang Batu Gunung Parang
KAMPUS GEOLOGI LAPANGAN KARANGSAMBUNG
Di desa Karangsambung terdapat sebuah bukit yang oleh penduduk setempat dikenal sebagai padang gelagah tempat anak-anak ngangon kambing. Disebelah timur, bukit ini bersandar di kaki Gunung Paras. Menghadap ke arah barat, dari bukit ini orang bisa memandangi badan Sungai Lok Ulo yang melenggak lenggok, sungguh seperti ular besar. Di bukit itulah pada tahun 1964 dibangun sebuah Kampus Lapangan Geologi, di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kampus ini sekarang dikenal sebagai Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI. Profesor Dr. Sukendar Asikin yang ketika lulus dari jurusan Geologi ITB tahun 1958 melanjutkan pendidikan “metoda geologi lapangan” di Kampus Lapangan Geologi di Rocky Mountains, Mountana, Amerika Serikat. Sekembalinya dari Amerika Serikat itu Sukendar Asikin bercita-cita membangun kampus lapangan geologi, karena berdasarkan pengalamannya, dengan adanya kampus lapangan geologi, pendidikan geologi lapangan akan dapat dilakukan lebih intensif dan terarah. Atas usulannya, pada tahun 1964, LIPI dan Departemen Urusan Research Nasional (DURENAS) membangun Kampus Lapangan Geologi Karangsambung. Kini setiap tahun rata-rata lebih dari 500 mahasiswa calon ahli geologi “nyantri” selama 10 hari sampai 1 bulan di Kampus ini untuk mempelajari metoda pekerjaan lapangan geologi. Selain itu, tamu-tamu lain dan pelajar sekolah juga mulai memanfaatkan fasilitas Kampus untuk ikut mempelajari tentang bumi.
Di Balik Gunung Parang
3. Gunung Parang
Lokasi bukit yang berjarak 600 meter di utara Kampus LIPI ini oleh masyarakat setempat disebut Gunung Wurung. Menurut cerita turun-temurun di masyarakat di sekitar bukit itu, Gunung Parang dibangun oleh para dewa. Gunung itu batal diselesaikan para dewa karena “kepergok” gadis yang sedang mencuci beras di tepi Sungai Lok Ulo. Wurung dalam bahasa jawa berarti batal. Menurut pengertian ilmu geologi, Gunung Parang adalah sebuah intrusi, yaitu magma (bahan gunung api) yang menerobos menuju ke permukaan namun keburu membeku sebelum muncul ke permukaan untuk menjadi gunung api. Sejalan dengan waktu,b tanah di atas intrusi ini tererosi, memunculkan Gunung Wurung. Kemiripan cerita rakyat dengan ilmu geologi, Gunung Wurung adalah batuan intrusi (yang batal menjadi gunung api).

4. Batugamping Nummulites
Sebongkah batugamping Nummulites tersingkap persis di depan Kampus LIPI. Batuannya berupa kumpulan keping - seukuran koin seratus rupiah - fosil foraminifera Nummulites. Fosil Nummulites menunjukkan batugamping ini berasal dari lingkungan laut dangkal pada 50 juta tahun yang lalu. Bongkahan ini ditafsirkan tercebur ke dalam lumpur pada palung laut, sebagaimana ditunjukkan oleh keberadaannya sekarang yang dikelilingi oleh batu lempung yang pernah menjadi bagia n dari dasar laut dalam. Contoh serupa ditunjukkan oleh bukit batugamping yang lebih besar, yaitu bukit Jatibungkus. Bukit Jatibungkus ini ‘ujug-ujug’ seperti muncul dan berada di tengah-tengah sawah. Hamparan sawah ini dulunya adalah lumpur yang mendasari palung laut, tempat bukit Jatibungkus itu terperosok dari bagian laut yang lebih dangkal.

5. Bukit Waturanda
Tidak jauh dari bukit Jatibungkus ke arah selatan, terdapat bukit yang batuannya berwarna abu-abu gelap dan berdinding terjal, namanya Bukit Waturanda (batu yang menjanda). Di sebelah baratnya melintas Sungai Lok Ulo yang memisahkan Waturanda dengan tonjolan bukit bernama Gunung Brujul. Masyarakat setempat mengatakan, Bukit Waturanda dinamai demikian karena dipisahkan (oleh Sungai Lok Ulo) dengan kekasihnya Gunung Brujul. Secara geologi, Bukit Waturanda dan Gunung Brujul adalah satu rangkaian perbukitan dengan batuan yang sama, yaitu batupasir kasar dengan fragmen batu andesit. Batuan ini berasal dari produk gunung api yang kemudian diendapkan di laut. Dari bentuk perbukitan yang tersisa, kelihatan jelas perbukitan ini dulunya pernah adalah kubah raksasa. Kubah itu kini telah tererosi membentuk lembah dengan susunan amfiteater raksasa, membentuk lembah Karangsambung.

CAGAR ALAM GEOLOGI KARANGSAMBUNG
Karangsambung tak ubahnya veteran pejuang kemerdekaan. Penuh cerita heroik, gagah perkasa dan mengagumkan. Tetapi ia sendiri kini renta dan nyaris terabaikan. Terhimpunnya berbagai macam batuan di Karangambung sebagai bukti hasil pertemuan Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Benua Asia. Fenomena alam ini sangat langka. Namun bukti bukti itu sudah mulai berkurang bahkan hilang dari Karangsambung akibat penambangan liar.

Untuk melestarikan situs batuan Karangsambung, Pemerintah Daerah Jawa Tengah pernah mengeluarkan SK Gubenur No. 545/103/1984 dan SK Gubernur No. 545/61/1995, tentang larangan penambangan semua bahan galian Golongan C di Wilayah Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Banjarnegera, dan Wonosobo, namun penambangan terus saja berlangsung. Tahun 2006, Situs Karangsambung ditetapkan sebagai Cagar Alam Geologi Karangsambung melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2817-K/40/MEM/2006. Pada tahun itu pula, tepatnya pada 14 November 2006, Cagar Alam Geologi Karangsambung diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono, bersamaan dengan peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Cilacap. Setelah Karangsambung resmi menjadi Cagar Alam, rupanya kerusakan situs langka ini tak juga berkurang. Misalnya, Gunung Wurung yang serupa dengan bentukan alam terkenal di dunia seperti Devils Tower di Amerika Serikat, atau Giant’s Causway di Irlandia adalah monumen alam yang sama-sama memiliki aspek cerita rakyat dan nilai ilmiah untuk pendidikan. Bedanya, Gunung Wurung kini sedang menjalani kepunahan.

Foto: Majalah Geologi GEOMAGZ
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Memahami Batuan Purba Karangsambung Kebumen Berdasarkan Teori Tektonik Lempeng. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers