Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

07 June 2013

Bertemu Mbah Slamet Suradio (Masinis KA 225 Dalam Tragedi Bintaro Tahun 1987)

Akhirnya setelah melalui proses yang panjang akhirnya saya bisa bertemu dengan mbah Slamet Sudiro, sang masinis dalam tragedi tabrakan kereta api di Bintaro pada 19 Oktober 1987. Keriput kulit wajahnya, menunjukkan usianya sudah sepuh. Matanya juga mulai mengapur sehingga membuat dia tak lagi jelas melihat. Jalannya pun sudah lambat sempoyongan. Kendati begitu ingatan Slamet Suradio (74) masih tajam. Terutama untuk mengingat peristiwa nahas 25 tahun silam, masih sangat detail dia mampu menceritakannya. Tragedi pagi Senin Pon, 19 Oktober 1987 pukul 07.30 yang mengantarkannya dalam ruang kenestapaan, kesedihan, dan kesengsaraan hidup. 

 


Ya, dialah masinis kereta KA 225 yang bertabrakan dengan KA 220 hingga akhirnya menewaskan 139 orang dan 300 orang lebih luka-luka. Kejadian itu tercatat sebagai peristiwa terburuk dalam sejarah perkeretapian di Indonesia. Cerita kehidupan Slamet ini bisa jadi merupakan potret betapa buramnya nasib masinis kereta api yang kerap menjadi pihak yang paling disalahkan dan harus bertanggung jawab dari setiap kecelakaan kereta api.


 

”Tragedi itu terus menghantui kehidupan saya. Tidak ada yang menghendaki kecelakaan itu terjadi, termasuk saya. Tapi itulah tanda kebesaran Allah yang Maha menguasai segala takdir kehidupan hamba-Nya,” ujar warga yang menempati rumah tak layak huni di RT 02 RW 02 Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang.

Cerita ketidakadilan yang dia rasakan dimulai persis setelah tragedi 1987 tersebut. Dia yang saat itu juga mengalami luka parah, awalnya dirawat di Rumah Sakit (RS) Pelni. Selanjutnya, dipindahkan ke RS Cipto. Di sinilah dia sempat akan diculik oleh keluarga korban karena dianggap paling bersalah menyebabkan ratusan orang tewas.

Selanjutnya dia dipindahkan ke RS Kramatjati. Selama tiga bulan dirawat di ICU, dia mulai disidik aparat kepolisian. Dalam perjalanan kasus yang dialaminya, Slamet merasa ada konspirasi untuk menimpakan semua kesalahan kepada pegawai rendahan seperti dirinya. ”Akhirnya dalam persidangan saya divonis lima tahun penjara dari tuntutan yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU) selama 14 tahun penjara. Vonis itu dikuatkan sampai pengadilan tingkat kasasi,” ujarnya.

Istri Direbut Teman Pada saat menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, dia kembali merasa mendapatkan ketidakadilan. Istri tercintanya, Kasni meninggalkannya termasuk anak-anaknya yang tidak lagi peduli dengan nasibnya. ”Istri saya direbut oleh teman saya yang juga masinis. Sakit rasanya hati saya,” ucapnya lirih.

Setelah menjalani hukuman selama 3,5 tahun,Slamet dibebaskan. Sekitar April 1994 dia keluar penjara dan kembali masuk kerja. Namun, sehari-hari dia hanya apel saja karena setelah kejadian itu dia dibebas tugaskan dari posisinya sebagai masinis kereta.
 

Dipecat Dari Pekerjaannya
 

Seperti petir di siang bolong, laki-laki lulusan SLTP kelahiran Purworejo 18 Agustus 1939 ini kembali merasa diperlakukan tidak adil. Sekitar tahun 1996, Nomor Induk Pegawainya (NIP) 120035237 dicabut. Ironisnya dia diberhentikan dengan tidak hormat yang mendasarkan pada tragedi kecelakaan Bintaro.

Sempat bertahan di Jakarta beberapa saat, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Purworejo. Dia yang tidak lagi punya saudara akhirnya diajak menikah oleh istrinya sekarang, Tuginem (45) yang memang telah memiliki gubuk seadanya. Dari pernikahan itu, dia dikarunia tiga orang anak. Yaitu Untung Sariono (16), Suroso (14), dan Safitri (9).

Setelah menetap di Purworejo, Slamet yang oleh warga sekitar akrab disapa Mbah Slamet berjualan rokok keliling di sekitar Perempatan BRI Kutoarjo.
Tempat jualannya itu jaraknya sekitar 17 km dari rumah tinggalnya. Awal-awal dia masih mampu mengayuh sepeda ontel untuk pergi bekerja. Namun belakangan matanya sudah tidak lagi jelas melihat, akhirnya dia memilih naik angkutan.

Jangan dibayangkan dagangan Mbah Slamet banyak. Di sebuah kantong plastik warna hitam, hanya ada belasan batang rokok yang ditaruhnya di beberapa bungkus, supaya terlihat banyak. Keuntungan yang diperolehnya sehari-hari hanya berkisar Rp 5.000. ”Mau bagaimana lagi, hanya (pekerjaan) ini yang bisa saya lakukan,” akunya.

Di usianya yang memasuki kepala delapan, dia merasa hidupnya sudah tidak lama lagi. Tapi hatinya tidak tenang karena tidak ada sesuatu yang bisa ditinggalkan untuk istri dan ketiga anak. Satu-satunya harapan hanya adanya mukjizat uang pensiun yang bisa diwariskan kepada keluarganya. ”Rasanya saya tidak bisa mati kalau uang pensiun itu tidak diberikan,” ujarnya membuat bulu kuduk merinding.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Bertemu Mbah Slamet Suradio (Masinis KA 225 Dalam Tragedi Bintaro Tahun 1987). Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers