Pin It

24 Desember 2021

Posted by Widodo Groho Triatmojo on 15:54

Metaverse, Ide Futuristik dari Masa Lalu

Akhir-akhir ini Metaverse sering menjadi berita utama di media mainstream setelah dipopulerkan oleh pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Padahal sebenarnya Metaverse tidaklah baru-baru amat. Apa sih Metaverse itu? Metaverse sendiri terdiri atas dua kombinasi kata, yakni Meta yang berarti melampaui, dan Universe yang artinya semesta. Jadi boleh dibilang Metaverse adalah sebuah istilah yang mengacu pada lingkungan dunia maya bersama yang dapat diakses orang melalui internet yang dibuat lebih hidup dengan penggunaan virtual reality (VR) atau augmented reality (AR). 

Metaverse, Ide Futuristik dari Masa Lalu

Metaverse, Ide Futuristik dari Masa Lalu


Diatas telah disinggung Metaverse versi Facebook tidaklah baru-baru amat, hal ini bisa kita buktikan pada tahun 1992 sudah ada kata "Metaverse" pada sebuah novel berjudul "Snow Crash" karya Neal Stephenson. Jadi Metaverse adalah sebuah frase yang diciptakan oleh Stephenson dalam novel fiksi ilmiah "Snow Crash" untuk menunjuk masa depan internet. Metaverse adalah visi Stephenson tentang bagaimana internet berbasis realitas virtual dapat berkembang di masa depan. Saat ini, 29 tahun setelah novel Snow Crash ditulis, Metaverse benar-benar menjadi nyata. Dengan mengubah nama Facebook menjadi Meta, Mark Zuckerberg menjelaskan bahwa menurutnya masa depan internet terletak pada sesuatu yang disebut ” metaverse ”, dunia virtual tempat orang akan tinggal, bekerja, dan bermain. Nah, Metaverse versi Facebook ini adalah ide futuristik, tetapi asal usul istilah ini sebenarnya berasal dari masa lalu. 


29 tahun lalu, penulis Neal Stephenson menciptakan istilah “metaverse” dalam novel fiksi ilmiahnya “Snow Crash,” yang membayangkan kehidupan berbasis realitas virtual ke internet. Dalam novel tersebut, orang-orang menggunakan avatar digital diri mereka sendiri untuk menjelajahi dunia online. Hampir tiga dekade kemudian, itulah masa depan yang menurut Mark Zuckerberg sedang ia coba bangun dengan Meta. Facebook, eh Meta tidak sendirian, perusahaan seperti Microsoft, Roblox, dan Epic Games juga merencanakan membangun metaverse mereka sendiri. 


Metaverse versi Novel Snow Crash 


Judul novel Snow Crash merujuk pada kejadian berbahaya di Metaverse. Ketika koneksi seseorang ke Metaverse dijangkiti virus komputer, atau terkena serangan pembajakan (hacking), pengguna tersebut mengalami snow crash yang merusak avatar daring pengguna dan menimbulkan kerusakan otak pengguna di dunia nyata. 


Secara garis besar, novel Snow Crash bercerita tentang tokoh Hiro sebagai pengantar pizza yang bekerja di perusahaan pizza Coso Nostra. Namun di Metaverse, Hiro sebenarnya adalah seorang pangeran. Hiro kemudian terjebak dalam virus komputer ketika berlari di tengah jalan dalam misi menghancurkan penjahat virtual yang membawa bencana informasi (infocalypse). 


Metaverse di novel tersebut jadi tempat pelarian yang berbahaya dari dunia yang dikuasai oleh mafia, tentara bayaran dan komunitas yang dijaga oleh pasukan bersenjata. Di novel Snow Crash, para pengungsi bermigrasi dari negara-negara yang hancur karena inflasi ekonomi dan pemerintah Amerika Serikat (AS) telah kehilangan sebagian besar kekuasaannya serta menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tak relevan dengan kebutuhan di dunia nyata. 


Metaverse, Cryptocurrency dan NFT


Nah, yang menarik di sini adalah Metaverse di “Snow Crash” juga menampilkan mata uang elektronik terenkripsi, mirip dengan cryptocurrency saat ini. Dan novel ini mengeksplorasi gagasan menghabiskan uang nyata untuk beli real estate virtual, yang saat ini kebetulan sudah dimainkan di platform realitas virtual yang berjalan diatas blockchain seperti Decentraland dan The Sandbox. Saat ini di Decentraland dan The Sandbox, tanah dan barang-barang lainnya dijual dalam bentuk non-fungible token (NFT), sejenis aset crypto. 


NFT adalah aset digital yang mewakili aset di dunia nyata. Ini seperti sertifikat digital bagi mereka yang memiliki foto, video atau bentuk virtual lainnya. Hal ini akan tercatat di blockchain. Bila sudah dienkripsi di blockchain, pihak lain tidak dapat menduplikasi atau mereplikasi aset tersebut. Bahkan tak hanya sekadar karya seni dalam bentuk digital, NFT juga diprediksi akan jadi bagian masa depan industri game


Saat ini jutaan orang menghabiskan berjam-jam sehari di ruang sosial virtual seperti Roblox dan Fortnite. Ketertarikan pada kepemilikan aset digital juga mengalami lonjakan. Perdagangan token non-fungible (NFT) dan cryptocurrency (mata uang kripto) selalu menjadi berita utama media mainstream. Nike bahkan dikabarkan sedang bersiap untuk menjual sepatu virtual di Metaverse. Di situlah NFT dan cryptocurrency bakal banyak berperan. 


Investasi di Metaverse


Karena metaverse menggunakan token kripto dan infrastruktur blockchain, maka nilai ekonomi mereka terhubung langsung ke ekonomi kripto yang lebih luas. Hal ini memungkinkan pemegang token metaverse, avatar, dan real estate digital untuk memperdagangkannya melalui DEX dan NFT, sehingga dapat memberikan nilai nyata sebagai bentuk investasi. 


Saat ini Metaverse masih dalam tahap awal pengembangan, inovasi baru ini menghadirkan peluang sosial dan keuangan yang menarik untuk masa depan. Metaverse kripto dapat menyajikan cara baru kepada pengguna untuk bermain, berinvestasi, dan berinteraksi.

Pemerhati transportasi publik, bus, truck serta sejarahnya.
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Next
    « Prev Post
    Previous
    Next Post »

    Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

    Terima Kasih

    Pengikut