Pin It

06 December 2020

Posted by Widodo Groho Triatmojo on 07:25

Mengenal Matahari Buatan dari Reaktor HL-2M Tokamak Milik China

Kemarin membaca twit dari kantor berita AFP yang menautkan laman Phys Org dengan judul China turns on nuclear-powered 'artificial sun'. Berita tersebut mengutip media-media lokal Tiongkok, Jumat (4/12/2020) bahwa China berhasil menyalakan reaktor fusi nuklir Reaktor HL-2M Tokamak yang dijuluki sebagai matahari buatan untuk pertama kalinya. Keberhasilan ini dinilai sebagai indikator bahwa kemampuan riset nuklir China telah sangat berkembang dan bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Fusi nuklir sendiri dianggap sebagai puncak dari pengembangan energi, karena meniru cara Matahari menghasilkan energi.


Mengenal Matahari Buatan dari Reaktor HL-2M Tokamak Milik China
Mengenal Matahari Buatan dari Reaktor HL-2M Tokamak Milik China (Photo: AFP)

Mengenal "Matahari Buatan" Reaktor HL-2M Tokamak


Reaktor HL-2M Tokamak adalah perangkat fusi nuklir terbesar dan paling canggih yang dikembangkan oleh para ilmuwan China. Perangkat itu diharapkan bisa menjadi sumber energi ramah lingkungan di masa depan. Sebenarnya proyek ini merupakan bagian dari keterlibatan China dengan International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER), yang berbasis di Prancis. Fusi dianggap sebagai Holy Grail (Cawan Suci) energi dan merupakan kekuatan Matahari, tetapi mencapai fusi sangatlah sulit dan sangat mahal. Masalah utamanya adalah bagaimana menemukan cara yang terjangkau untuk menampung pipa plasma panas dalam satu ruang dan menjaganya agar cukup stabil untuk terjadinya fusi.


Mengenal Matahari Buatan dari Reaktor HL-2M Tokamak Milik China
Matahari buatan China (Photo: Reuters)

Dengan memanfaatkan tenaga yang dihasilkan melalui fusi nuklir, dimungkinkan untuk memanfaatkan energi bersih yang hampir tak terbatas.


Menurut People's Daily, surat kabar milik Partai Komunis China, reaktor HL-2M Tokamak memanfaatkan medan magnetik yang sangat kuat untuk meleburkan plasma panas yang bisa mencapai suhu di atas 150 juta derajat Celcius atau 10 kali lebih panas dari inti Matahari. Matahari buatan ini dibangun di Provinsi Sichuan oleh para ilmuwan China dengan mengembangkan reaktor fusi nuklir berukuran kecil sejak 2006 dan rampung dibangun akhir 2019 kemarin, reaktor fusi nuklir ini sering dijuluki sebagai matahari buatan karena tingginya suhu serta besarnya energi yang dihasilkannya. 


"Pengembangan energi fusi nuklir bukan satu-satunya cara untuk menjawab kebutuhan energi strategis China, tetapi juga penting untuk pembangunan energi serta ekonomi nasional yang berkelanjutan," jelas People's Daily. 


Dalam proses fusi, nukleus atom dilebur untuk menghasilkan energi yang sangat besar. Kebalikannya adalah proses fisi nuklir yang digunakan dalam pembuatan senjata atau bom atom, pembangkit listrik tenaga nuklir. Berbeda dari proses fisi, dalam fusi nuklir tak ada emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Risiko juga lebih rendah dan peluang pencurian material atom juga sangat kecil kemungkinannya. 


Tetapi disisi lain, proses fusi memakan biaya sangat besar. Sayangnya biaya untuk membangun reaktor fusi China ini, yang dijuluki matahari buatan, tidak diketahui pasti. Tetapi jika melihat proyek serupa yang dikerjakan bersama-sama oleh Uni Eropa, China, India, Jepang, Rusia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat menelan biaya hingga 22,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 318 triliun. Proyek reaktor fusi nuklir internasional ini bernama International Thermonuclear Experimental Reactor atau ITER. 

Pemerhati transportasi publik, bus, truck serta sejarahnya.
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Next
    « Prev Post
    Previous
    Next Post »

    Note: Only a member of this blog may post a comment.

    Terima Kasih

    Followers

    Follow by Email