Pin It

09 July 2020

Posted by Widodo Groho Triatmojo on 21:47

MV-22 Block C Osprey, Pesawat Tempur Berkemampuan Vertical Takeoff and Landing (VTOL)

Beredar kabar kalau Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US DoD) melalui Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan (DSCA) pada 6 Juli 2020 yang intinya mereka merestui Indonesia membeli pesawat MV-22 Block C Osprey yang diproduksi oleh manufaktur Boeing dan Bell Textron. Melalui website resminya, DSCA mengumumkan bahwa Departemen Luar Negeri AS (State Department) telah memberikan persetujuan untuk penjualan delapan unit pesawat angkut MV-22C Osprey berikut persenjataan/kelengkapan lainnya kepada Indonesia. Nilai taksiran penjualan mencapai 2 miliar dolar AS. 

MV-22 Block C Osprey, Pesawat Tempur Berkemampuan Vertical Takeoff and Landing (VTOL)
MV-22 C Osprey (foto: military.com)

Dan berikut tangkap layar dari restu Amerika untuk Indonesia dalam pembelian pesawat MV-22 C Osprey tersebut. 

MV-22 Block C Osprey, Pesawat Tempur Berkemampuan Vertical Takeoff and Landing (VTOL)

Lalu Apa Keunggulan Pesawat MV-22 C Osprey Tersebut? 

Mengutip situs Military.com, MV-22 Osprey dikenal sebagai pesawat yang memiliki kemampuan vertical takeoff and landing (VTOL) layaknya helikopter. Kemampuan itu berkat dukungan teknologi tilrotor. Meski demikian, MV-22 Osprey memiliki kecepatan dan radius misi seperti pesawat fixed-wing. Selain itu, pesawat MV-22 Osprey juga memiliki kemampuan short takeoff and landing (STOL). Jadi MV-22 Osprey merupakan pesawat tempur yang disokong teknologi tilrotor yang menggabungkan performa vertikal selayaknya helikopter dengan kecepatan dan radius misi seperti pesawat fixed-wing. 

Mengutip Boeing, teknologi tilrotor membuat MV-22 bisa mendarat dan lepas landas secara vertikal dan bisa mencapai udara jauh lebih cepat dibandingkan helikopter biasa. Pesawat ini bisa mengangkut 24 orang dengan kecepatan dua kali lipat dan jarak lima kali lebih jauh dari helikopter biasa.

Pesawat memiliki kecepatan maksimal 500 km per jam. Pesawat juga memiliki radius misi sebesar 428 nautical mile (nm) atau sekitar 792 kilometer. MV-22 Osprey memiliki panjang 17 meter, lebar 25,78 meter dan tinggi 6,73 meter. Pesawat memiliki berat sekitar 23,8 ribu kilogram.

Di negara Amerika, MV-22 Osprey merupakan pendukung korps Marinir. Pesawat ditugaskan untuk menggantikan helikopter CH-46 Sea Knight sejak 2007. Mengutip Aeroweb, V-22 Osprey dapat dilengkapi dengan senapan mesin M240 7,62 mm atau senapan mesin M2 Browning kaliber 50 (12,7 mm). MV-22 Osprey juga dikabarkan bakal menggunakan kembali belly turret Interim Defensive Weapon System (IDWS) dari BAE Systems yang memiliki minigun tiga laras GAU-17 kaliber 7,62mm. 

MV-22 Block C Osprey, Pesawat Tempur Berkemampuan Vertical Takeoff and Landing (VTOL)
MV-22 C Osprey (foto: military.com)


Mengapa Indonesia lebih memilih membeli V-22 Osprey ketimbang Chinook?


Sempat terpikir juga sih ya, rasa-rasanya Indonesia enggak ada anggaran untuk beli Osprey. Baru Jepang saja yang beli Osprey, menyusul Israel. Beli aset militer ini bukan main-main mengingat anggaran belanjanya yang sangat tinggi dan perlu persetujuan kongres Amerika. Memang sih cocoknya beli Osprey bagi negara yang punya banyak ribuan kepulauan seperti Indonesia, dan kalau punya anggaran banyak tidak masalah. 


Mengejutkan memang, dan pertanyaan adalah:


Apakah tersedia cukup dana bila rencana ini jadi terealisasi?


Apakah Bu Menteri keuangan bersedia membubuhkan tanda tangan pada cek pembelian pesawat ini mengingat kondisi keuangan Indonesia sedang dialihkan untuk berperang melawan pandemi virus yang menyedot anggaran hampir di semua sektor. 


Tapi jika melihat berita mengejutkan yang datang dari FlightGlobal kayaknya benar-benar menjadi kenyataan dan ini link beritanya yang berjudul "Indonesia cleared to buy eight MV-22 Ospreys". Tapi saya rasa untuk tahun anggaran 2020 Indonesia belum akan beli dan teken kontrak. Indonesia masih akan menyelesaikan program yang kemarin.

Kecelakaan Pesawat MV-22 C Osprey 

Setelah membahas keunggulan MV 22C Osprey, sekarang mari kita bahas kecelakaan yang menimpa pesawat tersebit. Melansir Aviation Safety Network, jumlah kecelakaan yang melibatkan MV-22 Osprey sudah mencapai 30 kali sejak tahun 1991. Sedangkan dalam lima tahun terakhir, insiden yang melibatkan MV-22 Osprey mencapai 16 kali.

Insiden terbaru terjadi pada 30 Mei 2020 di Bandara Brown Field Municipal, fasilitas penerbangan umum yang dikelola kota San Diego dekat perbatasan AS-Meksiko. Saat itu, pesawat sipil Twin Otter terguling dan menabrak rotor sebelah kiri MV-22B Osprey milik Korps Marinir AS yang sedang diparkir. Tidak ada yang terluka akibat kejadian itu. 

Kejadian lebih lama lagi, pada Pada 1 April 2019, MV-22B Osprey milik militer AS menyampaikan keadaan darurat saat melakukan penerbangan dari Iwakuni ke Atsugi, Jepang. Pesawat itu kemudian melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Osaka dan menyebabkan penerbangan komersial tertunda selama 20 menit.

Pada 2018, empat insiden milik militer AS juga terjadi Jepang. Tiga insiden terjadi di Bandara Amami dan satu di sekitar pulau Ikei, Prefektur Okinawa. Selain gangguan mesin saat penerbangan, salah satu insiden terkait lepasnya penutup mesin. Namun, tidak ada korban jiwa dalam insiden sepanjang tahun 2018. 

Pada tahun 2017, jumlah insiden yang melibatkan MV-22 Osprey sebanyak tujuh kali. Insiden tersebut terjadi pada bulan Agustus 2017 di sekitar pantai Shoalwater, Queensland, Australia. Ketika itu, MV-22 Osprey milik marinir AS tenggelam beberapa saat setelah mendarat di kapal amfibi USS Green Bay. Tiga penumpang tewas dan 23 penumpang diselamatkan. 

Pada tahun 2016, dua insiden yang melibatkan MV-22 Osprey juga terjadi. Salah satu insiden terjadi ketika sedang melakukan operasi pengisian bahan bakar udara dari pesawat tanker MC-130J di atas laut. Saat itu, baling-baling menghantam selang pengisian bahan bakar dan merusak pesawat. Tidak ada korban jiwa, akan tetapi pesawat melakukan pendaratan darurat dan sejumlah kru dikabarkan mengalami luka. 

Pada tahun 2015, MV-22 Osprey milik militer AS mengalami kerusakan akibat menghantam landasan ketika melakukan pendaratan vertikal di Waimanalo, AS. Meski tidak ada korban jiwa, 18 personel termasuk kru dikabarkan mengalami luka serius. Selain itu, bagian sayap di dekat kabin utama, bagian ekor , dan semua rotorblade hancur. Api juga sempat  terlihat sebelum akhirnya dipadamkan.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Terima Kasih

Followers

Follow by Email