Kereta Singa Barong, Kendaraan Sunan Gunung Jati Buatan Lokal Cirebon Kereta Singa Barong, Kendaraan Sunan Gunung Jati Buatan Lokal Cirebon
Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

24 February 2019

Kereta Singa Barong, Kendaraan Sunan Gunung Jati Buatan Lokal Cirebon

Sabtu 23 Februari lalu saya jalan-jalan ke Cirebon melihat rilis bus Citros atau Cirebon Tourism On Bus di Keraton Kasepuhan. Mumpung lagi di keraton Kasepuhan, sekalian mampir ke museum pusaka. Ada hal menarik di museum pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon yakni kereta Singa Barong merupakan salah satu ikon budaya Cirebon. Yang membanggakan, organisasi pendidikan dan kebudayaan dari PBB, UNESCO menetapkan Kereta Singa Barong sebagai salah satu kereta kencana yang paling cantik serta unik di dunia. Kereta Singa Barong ini di buat sekitar abad ke-15, kereta ini merupakan kendaraan Sunan Gunung Jati yang tersimpan di museum Keraton Kasepuhan Cirebon, menjadi kebanggaan karena dibuat oleh penduduk lokal Cirebon. Hampir semua kereta di keraton seluruh Indonesia merupakan buatan Eropa. Berbeda dengan Kereta Singa Barong yang dibuat oleh warga lokal.



Kerajaan Islam Cirebon yang saat itu dipimpin oleh Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah membutuhkan kendaraan untuk operasionalnya. Maka dibuatlah kereta Singa Barong ini pada tahun 1549 oleh Panembahan Pakungwati I, yaitu Pangeran Mas Muhammad Arifin. Mandor pengerjaan kereta adalah Pangeran Losari yang bernama Ki Gebang Sepuh, sementara ukir-ukiran detail di sekujur kereta dikerjakan oleh seorang juru ukir dari Desa Kaliwulu, Plered, Cirebon, bernama Ki Nata Guna. Bahan utama pembangun Kereta Singa Barong adalah kayu laban atau kini lebih dikenal dengan sebutan kayu ulin. Asal nama Kereta Singa Barong berasal dari kata 'Singarani' yang artinya 'memberi nama' dan 'Barong' berarti 'bebarengan atau bersama-sama'. Berarti memberi nama sama-sama.



Kereta ini menggambarkan tiga makhluk yakni gajah, burung (garuda), dan naga. burung menggambarkan budaya Timur Tengah dalam hal ini agama Islam; Gajah menggambarkan India atau Hindu; dan Naga menggambarkan Tiongkok atau Buddha. Kereta yang ditarik oleh empat kerbau putih atau kebo bule ini menggambarkan adanya tiga budaya dari tiga agama dan bangsa yang berbeda. Kereta ini memiliki trisula di belalai yang menjadi lambang ketajaman cipta, rasa, dan karsa manusia.

Kereta Singa Barong Keraton Kasepuhan Cirebon saat itu ditarik empat ekor kerbau bule. Pada masa lalu, kereta ini digunakan untuk mengelilingi kota raja yang saat itu luasnya sekitar 50 hektar. Yakni, wilayah Pasuketan dan Lemahwungkuk yang saat itu disebut sebagai Kota Raja. Mengutip blog disbudparporakabcirebon.blogspot.co.id, Kereta Singa Barong telah mengenal suspensi dengan menyusun per (pegas) lempengan besi yang dilapisi karet-karet pada empat rodanya.


Kereta Singa Barong ini termasuk kereta canggih di jamannya. Hal ini terbukti pada tahun 1991 para ahli dari Leiden, Belanda, meneliti kendaraan tersebut dan mereka  berpendapat desain kereta ini cukup canggih pada masanya yang telah banyak digunakan oleh kendaraan-kendaraan masa kini. Kereta Singa Barong juga memiliki suspensi yang dapat meredam guncangan saat melalui jalanan berbatu atau rusak. Hal tersebut juga didukung dengan desain roda yang diciptakan sesuai dengan suspensi yang dimiliki kereta, sehingga dapat berputar secara stabil.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Kereta Singa Barong, Kendaraan Sunan Gunung Jati Buatan Lokal Cirebon. Ikuti saya di
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

2 Responses to "Kereta Singa Barong, Kendaraan Sunan Gunung Jati Buatan Lokal Cirebon"

  1. Kirain itu singa ya nama bintang singa, ternyata punya makna laun. Salut deh dengan pengukirnya, sungguh luar biasa sekali.

    ReplyDelete
  2. Iya betul punya makna sendiri.

    ReplyDelete

Followers