Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

14 April 2018

Sejarah Angkringan Dalam Catatan Djawi Hiswara Edisi 28 Januari 1918

Warung angkringan pasti tidak asing lagi buat kita semua. Hampir setiap tempat strategis pasti minimal ada satu warung angkringan. Dalam catatan sejarah, Angkringan ini ternyata sudah berusia seabad lebih di Kota Solo, jauh sebelum merebak di Yogyakarta. Sebagai buktinya, jurnalis Djawi Hiswara pada edisi 28 Januari 1918 menulis terminologi "angkring" dalam pemberitaannya. Koran lawas terbitan Surakarta yang bisa kita temukan di Perpustakaan Nasional Jakarta itu menjelaskan bahwa angkring adalah keranjang pikulan untuk mewadahi panganan dan air kopi yang tergeletak di pinggir jalan.


kemudian, Majalah Kajawèn tahun 1930 turut menyebut istilah "angkring". Sang jurnalis dalam rubrik humor menulis kalimat penting: "Pangunjukanipun wedang sang prabu ing ngriku punika tèh manjangan angkring...." Terjemahan bebasnya: minuman hangat sang prabu ialah teh (bermerek) manjangan angkring.

Fakta tersebut menyiratkan angkring bertemali dengan unsur minuman teh panas. Detik itu, angkring juga sudah populer hingga dicomot untuk nama merek teh.

Lalu, pengertian angkring dibulatkan oleh pakar kamus Jawa, Poerwadarminta yang menulis dalam Bausastra Jawa (1939). Poerwadarminta menulis ngkring ialah pikulan dan perangkatnya (kothakan wadhah pangangan) yang dipakai untuk menjajakan bakmi, soto, minuman, dan lainnya secara keliling. Keterangan ini memberi petunjuk bahwa bakul angkringan tempo doeloe berjualan keliling perkampungan.

Saat ini hampir tidak ada bakul angkring muter. Sebaliknya, pembeli sekarang justru keluar rumah berburu angkringan. Maka, pedagang angkringan rata-rata memilih manggrok (berdiam) bersama gerobaknya dipinggir jalan.


Tidak ada yang istimewa dari apa yang disajikan di angkringan dari jenis makanan atau minuman. Karena semua yang tersaji adalah makanan ‘wong cilik’ yang apa adanya. Namun keramahan, dan kehangatan di angkringan menjadi keunikan tersendiri, tentunya dengan semangat saling menghargai tradisi dan kesederhanaan. Di angkringan orang boleh makan sambil tiduran, sambil mengangkat kaki, teriak atau mengeluarkan sumpah-serapah. Tak jarang, angkringan jadi ajang diskusi. Selama tungku dan minuman masih hangat, maka selama itu keramahtamahan suasana angkringan akan kita dapatkan.

Dahulunya angkringan hanya menjadi tempat beristirahat rakyat kecil yang umumnya berprofesi sebagai supir, tukang becak dan delman. Tetapi dengan berkembangnya zaman, angkringan malah semakin digemari oleh beragam lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, seniman, pegawai kantor, hingga pejabat.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Sejarah Angkringan Dalam Catatan Djawi Hiswara Edisi 28 Januari 1918. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers