Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

20 September 2016

Gatot Brajamusti Dalam DPO (Detachment Police Operation)

Malam ini saya ingin ikutan trend menulis Gatot Brajamusti namun dalam dimensi yang berbeda. Yakni ketika Gatot Brajamusti menjadi seorang pemberantas narkoba dalam film DPO. Gatot Brajamusti bersama rekan tim elit melepaskan tembakan bertubi-tubi ke arah musuh. Ia menjalankan misinya menangkap gembong narkoba Satam yang bersembunyi di kawasan kumuh Rawa Keling. Dengan tangan kosong, Gatot dengan mudah melumpuhkan anak buah Satam, penjahat kelas kakap yang selalu berhasil lolos termasuk dari kepolisian Thailand dan interpol. Dan berikut poster film DPO.


Dalam dimensi yang berbeda ini, Gatot tampil sebagai pemberantas kejahatan dalam film "D.P.O" (Detachment Police Operation). Ia memerankan tokoh Sadikin, seorang kapten tim elit kepolisian Indonesia. Ironisnya, di dunia nyata, kehidupan Aa Gatot, berbanding terbalik 180 derajat dari film yang disutradarai LM. Belgant itu. Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) itu, terjerat kasus hukum karena tertangkap tangan sedang pesta sabu-sabu di Mataram, Agustus lalu.

Gatot Brajamusti juga menghadapi tuduhan kepemilikan senjata api ilegal yang ditemukan di rumahnya, hasil pengembangan kasus penyalahgunaan narkoba yang dituduhkan kepada dirinya.

Saat film DPO tayang perdana di tiga bioskop di Jakarta, Gatot justru tengah berada di ruang tahanan Polda Nusa Tenggara Barat. Gatot tidak hadir dalam penayangan perdana "D.P.O" dan meminta tolong temannya untuk memantau penayangan film yang ia banggakan itu.

Adegan Film DPO Serba Tanggung

Dalam film berdurasi sekitar 1,5 jam, Sadikin dengan susah payah menangkap Satam yang diperankan oleh Toro Margens. Ia merekrut empat anggota untuk melengkapi tim elitnya.

Ada Julie yang cerdas (Nabila Putri), Ganta si playboy dan sering menebar pesona dengan lawan jenis (Afdhal Yusman), Andi yang ahli bela diri dengan senjata andalan pisau (Thomas Joseft) serta Tatang si petarung jalanan (Deswyn Pesik).

Mereka berlima menyusup ke kampung Rawa Keling tempat Satam bersembunyi. Pertarungan tak terelakkan di kampung kumuh Rawa Keling. Korban-korban banyak yang berjatuhan, baik itu warga yang tak bersalah mau pun anggota tim elit yang dipimpin Sadikin.

Sayangnya, film DPO hanya menonjolkan adegan baku hantam dengan plot yang kerap di luar logika, dialog yang kadang terdengar konyol, serta akting pas-pasan.

Saat tim elit berniat menyusup ke kampung yang ditempati dengan gembong kriminal, karakter yang diperankan Gatot dan rekan-rekannya justru mengenakan kostum mencolok yang sama sekali tidak membuat mereka membaur dengan masyarakat.

Beberapa karakter utama lumayan bisa mendalami peran masing-masing. Namun, banyak para pemeran figuran terlihat sangat kaku di depan kamera. Belum lagi cara mereka mengucapkan dialog tanpa penjiwaan, seperti robot.

Misalnya, dalam satu adegan seorang karakter menemukan rekannya dalam keadaan sekarat, mulutnya berbusa akibat diracun. Bukannya panik dan segera memanggil bantuan, dia hanya merespons dengan nada dan ekspresi datar.

Dibandingkan film "Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita", film Gatot yang sedang dipermasalahkan akibat dugaan pemakaian senjata api asli sebagai properti "D.P.O" menawarkan adegan laga yang lebih heboh.

Adegan dar der dor di film itu dipoles dengan CGI. Tetapi sungguh disayangkan efek filmnya tidak maksimal sehingga hasilnya tanggung. Adegan yang seharusnya brutal pun jadi biasa saja dan terkesan tidak nyata. Misalnya, cipratan darah yang harusnya bisa menambah ketegangan dalam film, justru terlihat palsu.

Tetapi ketidaksempurnaan "D.P.O" memang lebih baik dibandingkan adegan-adegan absurd di "Azrax", salah satunya ketika Azrax mencabut lampu taman semudah mencabut lilin di kue ulang tahun, atau ketika Azrax membangunkan seseorang dengan mengucapkan "cilukba".

Pertanyaannya, kasus yang menimpa Gatot dan kkandal guru spiritual Reza Artamevia ini bisa menjadi promosi gratis untuk "D.P.O" atau justru membawa kerugian karena filmnya tidak laku?
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Gatot Brajamusti Dalam DPO (Detachment Police Operation). Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers