Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

04 July 2016

Titik Lelah Sopir Truck Berubah, Alas Roban Penuh Warung Remang-Remang

Pernahkah anda melalui Alas Roban, Batang, Jawa Tengah, pada malam hari? Jika belum sesekali tengoklah kawasan ini. Di kawasan hutan jati ini pemandangan kerlap kerlip lampu temaram, irama dangdut bersahutan. Banyak perempuan menemani para sopir truck di warung-warung di sepanjang jalan itu. Kebanyakan perempuan ini mengenakan pakaian pendek atau celana jins sepangkal paha. Baju mereka ketat dan memamerkan belahan dadanya. Para perempuan ini rata-rata berusia 20-40 tahun. Mereka adalah para PSK yang mangkal hutan jati Alas Roban.


Alas Roban, hutan jati kecil yang terkenal di ujung timur Kabupaten Batang, dikenal angker sejak dulu. Selain kejadian misterius, tempat ini juga sering menjadi langganan perampokan. Jalur ini merupakan jalur Daendels yang sempat menjadi urat nadi lalu lintas nasional. Kini daerah tersebut menjelma sebagai salah satu lokalisasi paling ramai di jalur Pantai Utara alias Pantura. Tak kurang 30 warung berjajar sepanjang 100 meter. Mereka menyediakan minuman ringan, kopi, bir, pemijat, hingga perempuan penghibur. “Cewek yang berdandan pasti biasa diajak,” ujar Boy, seorang sopir truck yang saya ditemui. Sekali kencan, mereka rata-rata mematok harga Rp 150-200 ribu. Hampir semua pelanggan mereka sopir truck yang singgah. "Sudah ada kamar kecil yang disediakan di belakang warung," katanya.

Tak sampai 1 kilometer dari warung-warung itu, masih termasuk kawasan hutan jati, terletak Desa Panundan yang dikenal luas sebagai desa wanita penghibur. "Di sini agak lebih mahal, Rp 250-300 ribu, karena usia mereka lebih muda," ucap Ardy, sopir truck yang sedang beristirahat di Panundan.

Wanita Penghibur Sepanjang Pantura Ada Sejak Jaman Belanda

Bisnis wanita penghibur di Alas Roban dan Panundan baru berkembang tiga dekade belakangan, sejak daerah-daerah itu menjadi tempat singgah para sopir truck sepanjang jalur Pantura. Alas Roban merupakan titik lelah para sopir yang datang dari arah Lasem atau Indramayu. Sebab, biasanya mereka kelelahan setelah mengemudi 8-10 jam.

Pengusaha ekspedisi bukan tak paham perilaku para sopir mereka. Semua truck sudah dipasangi GPS untuk memantau perjalanan truk. Mereka akan ditegur mandor bila terlalu lama berhenti di lokasi peristirahatan, apalagi di warung remang-remang. "Kalau berhenti di titik yang bukan ditetapkan sebagai tempat istirahat, kantor bisa langsung menelepon," ujar Budi Hantoro, seorang sopir truck menambahkan. Namun warung-warung hiburan itu tetap saja ramai.

Lokalisasi di sepanjang Pantai Utara Jawa sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Dulu mereka bertebaran di sepanjang Jalan Pos, yang dibangun atas instruksi Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, Maarschalk Herman Willem Daendels. Kala itu jalan yang menghubungkan Anyer dan Panarukan tersebut merupakan jalur utama lintas Pulau Jawa sekaligus alur distribusi logistik Jawa-Sumatera.

Jalur Pantura, yang kini menjadi favorit para sopir truck ekspedisi sebagian besar merupakan bekas Jalan Pos. Namun sebagian besar lokasi prostitusi di Pantura baru terbentuk kemudian.

Menurut Wijanarto, sejarawan asal Brebes, lokalisasi zaman baheula itu menghilang akibat pola titik lelah para sopir yang berubah. Contohnya lokalisasi Plawangan, yang terletak antara Tegal dan Pemalang. Di sana dulu ada pabrik gula yang dibangun pemerintah Belanda. Buruhnya mencapai seribuan orang. "Pelanggannya para buruh pabrik itu juga," katanya.

Kalaupun ada yang bertahan, kebanyakan tidak lagi segemerlap dulu. Di pusat Kota Semarang, kata sejarawan lokal Jongkie Tio, 74 tahun, ada lokalisasi lama yang bertahan. Itu karena peran Pelabuhan Tanjung Emas yang vital bagi kapal-kapal besar. Di samping itu, letaknya yang di tengah Jawa membuat Semarang selalu menjadi kota transit para pelintas Jalan Raya Pos.

Mereka biasanya menginap di daerah yang kini dikenal dengan nama Jalan Imam Bonjol dan Pemuda. "Kebanyakan mereka adalah pelaut, pedagang, dan orang Belanda," ucap Jongkie.

Jalan Imam Bonjol kala itu merupakan terusan dari Jalan Raya Pos yang dibangun atas instruksi Daendels. Di sana terdapat banyak hotel yang menyediakan perempuan penghibur. Semua milik pengusaha Belanda. Pada masa itu, tak sembarang orang bisa menginap di sana. Mereka harus berkantong tebal atau dari kalangan bangsawan.

Meski bertahan, sekarang pelaku prostitusi di Jalan Imam Bonjol bukan lagi masyarakat kelas atas. Jumlah penjaja cintanya pun tak banyak lagi. Saban malam, merekamangkaldi pinggir jalan, duduk sendirian di jok sepeda motor menunggu pelanggan.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Titik Lelah Sopir Truck Berubah, Alas Roban Penuh Warung Remang-Remang. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers