Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

26 January 2016

Catatan Dari LP Ke LP: Bisnis Di Dalam Penjara, Dari Buka Warung Di Kamar Hingga Jualan Pulsa

Tulisan ini dari pengalaman pribadi mengunjungi beberapa LP sejak tahun 2007. Aku memang sering mengunjungi napi untuk keperluan nambah data data bahan tulisan. Dan sekarang aku tulis sedikit di blog ini. Nah, jaman sekarang Penjara sudah tidak ada, sudah dihapus dan digantikan oleh Lembaga Pemasyarakatan. Narapidana bukan lagi pesakitan melainkan Warga Binaan. Itulah esensi dari Konsep Pemasyarakatan, dimana satu-satunya hukuman adalah kehilangan kemerdekaan bergerak di dunia luar. Selebihnya warga binaan tetap mendapatkan haknya untuk belajar dan hak untuk hidup sehat. Namun faktanya di LP banyak orang sakit gatal karena tidak punya uang untuk berobat, padahal seharusnya di sediakan pengobatan gratis.


Catatan Dari LP Ke LP: Bisnis Di Dalam Penjara, Dari Buka Warung Di Kamar Hingga Jualan Pulsa

Dari penelusuran saya ketika berkunjung ke beberapa Lapas, faktanya Lembaga Pemasyarakatan jauh dari konsep Pemasyarakatan tersebut. Hampir semua yang masuk ke Lapas akan mencari kelompok agar merasa aman dan terbentuklah kelompok kesukuan seperti Kelompok Ambon, Kelompok Arek, dan lainnya. Tak ubahnya seperti di dalam masyarakat. Kelompok-kelompok ini menjadi "kekuatan atau penguasa" tersendiri di samping institusi resmi Lapas. Persaingan untuk menguasai lahan kegiatan dan "kedudukan" yang dapat menghasilkan uang. Kelompok-kelompok ini pun dimanfaatkan oleh petugas dan pejabat, salahg satunya untuk mendapatkan uang tambahan. Nah, kalau cerita selebritis atau tokoh masyarakat di penjara sudah sering didengar. Tapi bagaimana dengan pelaku kasus "teri" ?Mari kita kupas kisah kehidupan di dalam penjara ini.

Bisnis Di Dalam LP

Salah satu yang cukup menarik adalah soal bisnis yang ada di dalam Lapas yang dilakukan napi kelas teri. hampir di semua blok hunian Lapas terdapat berbagai warung yang menyediakan segala keperluan hidup. Berbagai barang yang disediakan mulai dari makanan siap saji, mi instan, kopi. Bahkan, kebutuhan seperti sikat gigi, sandal jepit pun lengkap tersedia. Warung-warung ini tumbuh subur karena makanan napi yang disediakan Lapas dinilai kurang standar.Nah, keberadaan warung-warung di dalam lapas ini sebenernya tidak melenceng dari esensi lembaga pemasyarakatan yang di huni oleh warga binaan. Kan mereka didalam sebenernya dibina untuk dimasyaraktan kembali, jadi kegiatan jual beli ini juga sebenernya bagian dari pembinaan tersebut. Seharusnya ini tidak melenceng dan sah-sah saja dengan aturan tertentu, misal barang yang di jual tidak boleh di datangkan dari luar, melainkan harus belanja dari kantin milik Lembaga Pemasyarakan atau semacam koperasi kalau ada. Nah yang menjadi masalah adalah sering terjadi pungutan liar untuk para pedagang ini.

Selain warung makanan dan segala kebutuhan sehari-hari, salah satu bisnis yang marak dan dijadikan sebagai cara transfer uang oleh narapidana adalah jual beli pulsa. Bagaimana bisa? Keluarga atau kerabat menggunakan cara mentransfer sejumlah pulsa ke nomor ponsel sang napi. Ini sebenernya tidak di perbolehkan, namun faktanya hal ini sering terjadi. Kemudian pulsa yang telah ditransfer ini dijual kepada napi lainnya atau bahkan kadang kepada para sipir. Demi mendapatkan uang tunai dengan cara cepat, sering kali pulsa yang dijual jauh lebih murah dibanding harga pasaran. Pulsa dengan nilai Rp 100 ribu dijual dengan harga Rp 80 ribu, dan pada waktu-waktu tertentu bisa turun sampai Rp 75 ribu.

Mereka yang biasa menjajakan pulsa ini kebanyakan "anak bawah", kasta terendah di antara para napi. "Anak bawah" jarang dikunjungi keluarga dan tak memberikan kontribusi keuangan bagi keperluan kamar. Pembeli utama dari pulsa ini adalah petugas. Maraknya perdagangan pulsa bukan karena tingginya tingkat pemakaian ponsel di penjara, melainkan karena para narapidana terdesak kebutuhan finansial sehari-harinya. Bagaimanapun juga mereka kan harus menyediakan biaya untuk uang kamar, uang makan, membeli air, rokok, dan lain-lain. Belum lagi untuk pungutan yang kerap terjadi. Sebagian dari para napi menggantungkan pemenuhan finansialnya dari keluarga yang berkunjung. Mentransfer uang melalui pulsa dinilai paling aman dari berbagai "sunatan". Bayangkan, jika langsung memberikan uang tunai saat berkunjung, mungkin tak ada separuhnya yang sampai ke napi.

Bisnis Jual Beli Kamar Dan Fasilitas Lainnya

Praktik jual beli kamar ini sebenernya sudah lama terjadi dan saya kira enggak hanya terjadi di Indonesia. Gambaran paling sederhana adalah ketika ada napi setelah vonis dan akan dikeluarkan dari Mapenaling ke blok napi. Di situ bisa saja terjadi praktik jual beli kamar dengan cara request sebelumnya untuk minta di tempatkan di kamar tertentu. Untuk harga ini tergantung kamar yang di pesan. Kalau masih kamar besar yang berisi puluhan napi ya masih murah. makin kecil kamar dan makin sedikit penghuni tentu makin mahal. Disini saya enggak bisa menyebutkan angka nominal karena itu relatif dan beragam. Nah, sebenernya standard kamar di dalam LP itu sudah ada TV. TV ini bukan barang mewah dan memang disediakan untuk hiburan napi. Yang dilarang adalah alat komunikasi macam HP, TV gak dilarang karena hanya unttuk hiburan dan agar napi juga bisa menambah wawasan dari dunia luar.

Praktik jual beli kamar dan fasilitas ini sering juga terjadi dari keinginan napi itu sendiri yang ingin memasukkan barang-barang tertentu didalam kamar, misal kulkas. Kulkas ini sebebnernya tidak diperbolehkan, tapi yang namanya manusia ya kadang ada saja yang memang membutuhkannya. Untuk memasukkan kulkas tentu saja harus membayar dengan nominal tertentu. Begitu juga pungutan bulanan dengan alasan untuk membayar listrik.

Surat Dari NAPI

Catatan Dari LP Ke LP: Bisnis Di Dalam Penjara, Dari Buka Warung Di Kamar Hingga Jualan Pulsa

Padahal aku gak mengenal dia sebelumnya dan aku kenal karena aku sering mengunjungi LP Purwakarta. Dan dia sering saya ajak bincang bincang. Dia bernama Bumi Andri Permadi asal Wanayasa, Purwakarta. Mungkin karena aku memanusiakan siapapun dia sering berkirim surat kepadaku. Bahkan saat dia pulang pun aku menjemputnya.

Memo Dari Napi

Catatan Dari LP Ke LP: Bisnis Di Dalam Penjara, Dari Buka Warung Di Kamar Hingga Jualan Pulsa

Ini hal unik dan lucu ketika melakukan kunjungan ke LP. Ada begitu banyak memo masuk ke saya menggunakan sobekan kertas. Kebanyakan sih minta rokok dan kopi. Padahal mereka belum kenal saya sebelumnya, hanya karena saya rutin melakukan kunjungan dari LP ke LP jadi mereka seperti saudara.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Catatan Dari LP Ke LP: Bisnis Di Dalam Penjara, Dari Buka Warung Di Kamar Hingga Jualan Pulsa. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers