Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

18 January 2015

Menelusuri Jejak Kolonialisme Di Kawasan Penjara Nusakambangan

TANGGAL 20 Mei 1982, Johanes Hubertus Eijkenboom, gembong perampok yang tenar dipanggil Johnny Indo, bersama 34 narapidana lain kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Permisan di ujung barat Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Setelah bertarung 12 hari menembus hutan perawan, penuh jurang dan binatang buas, dia pun menyerah.

Itu sekelumit kisah pelarian Johny Indo dalam buku Johny Indo: Tobat dan Harapan (1990). Kisah narapidana (napi) itu mengukuhkan pulau ini sebagai penjara ”Alcatraz” di Indonesia. Alcatraz adalah pulau penjara dengan tingkat keamanan maksimal di Teluk San Francisco, Amerika Serikat, yang ditutup tahun 1963.



Tak berlebihan membandingkan Nusakambangan dengan Alcatraz. Terpisah selat yang dalam dengan daratan Pulau Jawa, alam Nusakambangan kian sangar dikurung belantara hutan tropis. Pulau itu juga menjadi habitat hewan buas, seperti macan tutul dan ular berbisa. Oleh sebab itu, hingga kini, Nusakambangan menjadi rujukan bagi napi kelas kakap, mulai dari kasus pembunuhan, perampokan, terorisme, hingga korupsi.

Selain Johny Indo, beberapa figur menonjol yang pernah menghuni Nusakambangan adalah Kusni Kasdut, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), M Bob Hasan, Fabianus Tibo (terpidana kasus pembunuhan di Poso, Sulawesi Tengah), serta napi kasus terorisme, seperti Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas. Tahun 1965-1970, Nusakambangan pernah menjadi tempat pembuangan sementara hampir 10.000 orang yang diduga terlibat dalam gerakan komunis dan pemberontakan 30 September 1965, termasuk novelis Pramoedya Ananta Toer.

Selain sebagai penjara, pulau ini juga menjadi lokasi eksekusi bagi terpidana mati. Salah satu lokasi yang sering menjadi tempat eksekusi adalah Lembah Nirbaya, sebuah dataran luas di tengah pulau. Menurut beberapa petugas LP di Nusakambangan, area itu dikenal angker.

Saat memasuki Nusakambangan beberapa waktu lalu, pemeriksaan sangat ketat dimulai sejak hendak menyeberang dari dermaga Wijayapura. Penyeberangan itu butuh waktu 10 menit dengan kapal khusus milik Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.


Di Nusakambangan, setiap LP terhubung jalan aspal. Setiap penjara itu dikelilingi pagar kawat berduri dan dialiri listrik.

Sebagian lahan di Nusakambangan juga dimanfaatkan untuk perkebunan karet dan buah-buahan yang dikelola koperasi pegawai LP. Beberapa napi ikut berkebun atau beternak. Pengunjung bisa membawa cendera mata berupa batu akik karya napi.

Awalnya benteng

Jauh sebelum menjadi pulau penjara, saat Belanda menguasai negeri ini, Nusakambangan dinilai sebagai lokasi yang strategis untuk dijadikan benteng pertahanan. Benteng itu untuk menangkal serangan dari arah laut selatan dan daratan Jawa.

Selat Segara Anakan yang bergelombang tenang karena terhadang Nusakambangan juga memungkinkan kapal merapat ke Pelabuhan Cilacap, Tanjung Intan. Pemerintah Hindia Belanda membangun Benteng Karang Bolong dan Benteng Klingker pada tahun 1837-1855.

Dalam buku Pengkajian dan Penulisan Upacara Tradisional di Kabupaten Cilacap oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng (2010), dua benteng itu dibangun Belanda menggunakan tenaga napi yang didatangkan dari beberapa penjara di Jawa.

Inilah yang menjadi titik awal masuknya napi ke pulau ini. Keberhasilan Belanda melakukan pengawasan dan pengamanan terhadap napi dipakai sebagai dasar penetapan pulau itu sebagai penampungan orang hukuman atau penal colony.

Nusakambangan ditetapkan sebagai pulau penjara oleh Hindia Belanda melalui Ordonasi Staatblad Nomor 25 Tanggal 10 Agustus 1912. Kewenangan pulau itu diserahkan kepada Departemen Van Justitie (Departemen Kehakiman), yang sekarang menjadi Kemenkumham.

Ada delapan penjara di Nusakambangan, yakni Nirbaya dan Karanganyar (1912), Batu dan Gliger (1925), Besi (1927), Permisan (1928), Karang Tengah dan Limus Buntu (1935), LP Kembangkuning (1950), Pasir Putih dan Terbuka (2007), serta LP Narkotika (2008). Sebagian besar penjara yang dibangun pada era Hindia Belanda tak difungsikan lagi, kecuali LP Permisan, Batu, dan Besi.

Sisa kejayaan benteng Belanda di Nusakambangan masih bisa disaksikan. Salah satunya Benteng Karang Bolong di Nusakambangan timur. Setelah menyeberang dengan perahu nelayan dari Teluk Penyu, butuh sekitar 30 menit jalan kaki melintasi area hutan hingga sampai di benteng ini. Sekilas benteng itu tinggal puing-puing yang sudah ditumbuhi semak belukar dengan belitan akar pohon di dindingnya. ”Mengingatkan pada bangunan Angkor Wat di Kamboja,” kata Evgenia (30), wisatawan asal Selandia Baru.

Strategis

Heri Prayitno (56), pemandu wisata di Nusakambangan, mengatakan, benteng seluas 6.000 meter persegi itu didirikan enam lantai di bawah tanah. Benteng ini strategis karena dari bagian atas bisa melihat laut lepas sekaligus mengawasi jalur masuk ke pelabuhan. Benteng juga terhubung terowongan dalam laut dengan Benteng Pendem di Semenanjung Cilacap.

Walau potensinya tak terawat sepenuhnya, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kemenkumham Jateng Hermawan Yunianto menegaskan,
saat ini Nusakambangan masih menjadi pulau tertutup dan hanya difungsikan sebagai penjara.

Namun, Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamudji berpandangan, pengelolaan wisata dan pengamanan penjara dapat dijalankan beriring tanpa saling mengganggu. Potensi Nusakambangan harus dikembangkan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Menelusuri Jejak Kolonialisme Di Kawasan Penjara Nusakambangan. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers