Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

27 November 2014

Motor Ini Berbahan Bakar Air

Nama lengkapnya Bambang Erbata Kalingga. Ia akrab disapa Bata. Pria berusia 44 tahun ini memproklamirkan dirinya sebagai pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kartika Persada yang beralamat di Kelurahan Buaran, Serpong, Tangerang Selatan. Di Buaran itu juga, Bata bersama sejumlah rekannya mengelola Sinar Abadi, sebuah bengkel alakadarnya yang menggagas dan coba mengejawantahkan berbagai proyek manufaktur serta teknologi alternatif. 


Menyambangi bengkel Sinar Abadi itu. Lokasinya tak jauh dari kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), dan kampus Institut Teknologi Indonesia (ITI) di Muncul, Serpong. Tapi, tak ada hubungan sama sekali, antara bengkel Sinar Abadi dengan Puspiptek maupun Kampus “oranye” ITI. Sinar Abadi, cuma bangunan rumah yang disulap jadi workshop “berantakan”, tempat Bata “membongkar” keilmuan di kepalanya demi mengolah dan mencipta karya.


Sejumlah karya-karya Bata yang masih ditekuni Bata sempat penulis saksikan sendiri di bengkel itu. Sebut saja misalnya, lampu air (Water Lamp), Tesla Turbine, Sterling Engine, Penduluman, Liquid Iston, Pembuatan es dari panas matahari, Micronidro, dan masih banyak lagi. Khusus untuk Water Lamp, Bata mengajak penulis masuk ke ruang demi ruang di bengkelnya, dan menyaksikan sendiri ada sejumlah genting atap rumah yang sengaja dicopot untuk kemudian digantikan posisinya dengan lampu air itu. “Water Lamp itu tanpa aliran listrik sama sekali, hanya menggunakan energi sinar matahari dan bias air itu sendiri. Tapi, ruangan yang gelap jadi lumayan terang ya,” kata alumni SMAN 70 Bulungan angkatan BASIS 1989 ini. 


Dari sekian karya-karya tadi, saat berbincang-bincang dengan Bata di teras depan bengkelnya, ada satu yang paling menarik perhatian penulis. Di halaman parkir, terlihat satu unit sepeda motor jenis “bebek”, dengan dua tabung penuh cairan di bagian depan. Nyentrik sekali. Ada motor, memakai cairan, yang bukan bensin bersubsidi, apalagi bensin nonsubsidi. Lalu apa sebenarnya cairan itu? “Ya, itu cuma air. Air biasa yang dimasukkan ke dua tabung dengan ukuran panjangnya satu jengkal jari, dan berdiameter tabung sekitar 16 centimeter,” jelas Bata.
Lho, kok isinya air? Motor “bebek” bisa melaju dengan memakai air? Hahahahaaaa …. jangan-jangan ini “bebek” betulan.

Tapi memang begitulah adanya. Berdasarkan sumber-sumber literasi yang pernah didalaminya, Bata kemudian nekat membongkar sepeda motor “bebek” miliknya. Ia nekat mengutak-atik berbagai komponen yang berkaitan dengan pengapian dan pembuangan. Hasil elaborasi Bata ternyata berhasil. Eureka! Jadilah sepeda motor yang mengolaborasikan bahan bakarnya dengan menggunakan bensin dan air. 



“Sebenarnya, teknologi bahan bakar menggunakan air, bukanlah temuan atau karya baru di Indonesia, apalagi di dunia. Sudah banyak ilmuwan yang melakukan dan memanfaatkan air, untuk menggerakkan berbagai mesin produksi dan lain sebagainya,” tutur Bata merendah.
Teknologi sepeda motor yang memadukan bahan bakar berupa bensin dan air ini, lanjut Bata, sudah mulai dijajal, diujicobakan pada Desember 2008. “Idenya berasal dari masukan seorang kawan sebangku di SMA dulu. Terus, aku coba praktikkan di bengkel sini,” ungkap alumnus PMS-ITB alias Politeknik Mekanik Swiss-Institut Teknologi Bandung, 1992 ini. Pada 1990, PMS-ITB berganti nama menjadi Politeknik Manufaktur Bandung (POLMAN-Bandung).

Di Indonesia, berdasarkan googling penulis, Prof Dr Ir Djoko Sungkono M.Eng.Sc., dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Jawa Timur, sudah juga mengembangkan bahan bakar air dan bensin untuk sepeda motor dan mobil. Bahkan disebut-sebut, biaya pembelian berbagai piranti teknologi untuk memanfaatkan air sebagai tambahan bahan bakar ini tidak terlalu mahal. Hanya sekitar Rp 400 ribu untuk sepeda motor, dan dua kali lipatnya lagi untuk mobil. 


Tiga Skenario Motor Berbahan Bakar Air
Selama mengembangkan sepeda motor berbahan bakar air, Bata menyebutkan bahwa ia memiliki tiga skenario eksperimen kerja. “Aku sudah praktik dan bukan cuma teori. Skenario pertama, sepeda motor dinyalakan atau di-starter dengan menggunakan bahan bakar bensin, lalu setelah sudah jalan, bahan bakar diubah menjadi air dan bensin. Skenario kedua, motor tetap di-starter dengan menggunakan bensin, tapi setelah jalan, sepenuhnya menggunakan bahan bakar air. Untuk skenario ini, berarti harus lebih tinggi lagi produksi hidrogennya. Sedangkan untuk skenario ketiga, sepeda motor di-starter dan dijalankan atau dipacu dengan sepenuhnya menggunakan bahan bakar air,” urai Bata sengaja membocorkan rahasia eksperimentasi sepeda motor berbahan bakar airnya itu.

Menurut Bata lagi, untuk skenario ketiga, yakni men-starter dan menjalankan sepeda motor dengan menggunakan bahan bakar air, memiliki konsekwensi tersendiri yang diakuinya masih belum mampu ia wujudkan. “Skenario sepenuhnya menggunakan bahan bakar air ini sama saja artinya dengan menggunakan tabung tekanan. Tabung tekanan ini sangat berbahaya, dan jujur aku bilang, aku belum memiliki keahlian untuk menggunakan atau menguji-coba tabung bertekanan. Selain memang terlalu tinggi juga resiko ujicoba dan penggunaannya,” jujur Bata. 


Dengan menggunakan campuran bahan bakar air dan juga bensin, apa tidak malah menjadikan mesin sepeda motor cepat terjadi korosi atau berkarat? Dengan enteng Bata menjawab, “Tidak akan korosi atau berkarat mesinnya. Karena yang masuk ke mesin adalah berupa gas, bukan berupa air atau H2O. Justru H2O-nya itu “dipecah” molekulnya menjadi H2 dan O2, lalu masuk ke dalam ruang pembakaran dan “dibakar”. Nah, saat di knalpot sepeda motor menjadi uap air. Itu sebabnya knalpot malah akan jadi dingin,” terang pengagum berat klub sepakbola asal Inggris, Liverpool ini.

Berdasarkan pengalaman melakukan eksperimen bahan bakar air dan bensin ini, Bata berani meyakinkan bahwa, sepeda motor yang menggunakan teknologi hydrogen ini dapat menghemat atau mengirit pemakaian bahan bakar minyak antara 40 sampai 60 persen. “Ambil contoh, kesaksian menggembirakan dari salah seorang peminat teknologi ini yang sepeda motornya sempat aku pasangkan dua tabung reaktor air. Karena katanya, dengan menggunakan bahan bakar air dan bensin pada sepeda motornya, saat ini ia hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp 15.000 per hari untuk membeli bensin. Terbukti, ketika sepeda motornya sempat tidak menggunakan teknologi hydrogen selama dua minggu karena sesuatu alasan, orang tadi mengaku harus mengeluarkan kocek antara Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per hari untuk membeli bensin. Jelas, bahan bakar air dan bensin, lebih irit konsumsi bahan bakar minyaknya, dan lebih irit juga di kantong,” cerita Bata penuh syukur. 


Pengalaman Bata sendiri selama mengendarai sepeda motor jenis “bebek” dengan bahan bakar air dan bensin ini tidak jauh berbeda soal penghematan bahan bakar minyaknya. “Jarak tempuh sepeda motor aku ini setiap hari cukup jauh. Bayangkan, dari rumahku di kawasan Blok M (Jakarta Selatan), sampai bengkel aku di kawasan Buaran, Serpong (Tangerang Selatan), dan kembali lagi atau pulang pergi, aku cuma menghabiskan satu liter bensin atau bahan bakar minyak,” akunya ber-testimoni.
Penulis sempat membuka googlemaps dan melihat jarak lokasi antara Blok M menuju ke kawasan Buaran di Serpong. Hasilnya, rute terpendek adalah 24,4 kilometer, dan rute terjauh adalah sepanjang 30,2 kilometer. Ajib!

Kepada penulis, Bata mengaku lupa, sudah berapa jumlah sepeda motor yang pernah ia pasangkan teknologi berbahan bakar air dan bensin ini. “Wah, aku lupa jumlahnya. Yang pasti lebih dari sepuluh sepeda motor. Karena, aku pernah memasang teknologi bahan bakar air dan bensin ini hingga ke Pulau Kalimantan juga. Dari semua sepeda motor yang pernah saya pasangkan teknologi hydrogen, si empunya biasanya mempelajari terlebih dahulu teknologi ini, mulai dari konsep, cara pembuatan, perakitan, hingga maintenance, dan tetek-bengek lainnya. Jadi, kalau aku sudah pasang teknologi hydrogen itu ke sepeda motor milik seseorang, ya sudah, untuk selanjutnya segala sesuatu adalah terserah kepada si empunya sepeda motor. Meskipun, aku tetap terbuka untuk dihubungi kapan saja,” tutur Bata. 


Mobil Berbahan Bakar Air dan Bensin
Tangan kreatif dan inovatif Bata tidak berhenti hanya pada pemasangan bahan bakar air dan bensin untuk sepeda motor saja. Lelaki yang kini gemar blusukan demi membantu petani dan pembudidaya garam untuk menggenjot produksi hasil panen di berbagai wilayah ini juga pernah melakukan eksperimen dengan memasangkan teknologi hydrogen di mobil.

“Pada tahun 2013 kemarin, aku pernah coba pasang teknologi bahan bakar air dan bensin ini di sebuah mobil. Sempat ada kendala karena suara mesin mobil menjadi agak ‘ngelitik’. Tapi setelah aku lakukan penyempurnaan, hasilnya menjadi lebih baik. Suara ‘ngelitik’ di mesin mobil tidak ada lagi, malah bias menjadi lebih halus lagi suara mesinnya. Begitu pula dengan gas buangan dari knalpot mobil, terasa menjadi lebih dingin,” ujar Bata meyakinkan. 


Setelah pemasangan teknologi hydrogen selesai, mobil itu oleh Bata dan sejumlah rekannya kemudian coba untuk dikendarai, sambil tentu saja dihitung jarak tempuh kilometer dan konsumsi bahan bakar minyaknya. “Pada tanggal 10 Desember 2013, mobil berbahan bakar air dan bensin ini kita coba kendarai, dari Jakarta ke wilayah Sancang di Garut, Jawa Barat. Hasilnya, dengan jarak tempu sejauh 395,4 kilometer, mobil ini hanya menghabiskan bahan bakar minyak sebanyak 33,54 liter. Artinya, jarak tempuhnya menjadi 11,789 kilometer per liter bahan bakar minyak, padahal awalnya hanya kira-kira 8 kilometer saja per liternya. Terbukti, ada pengiritan pemakaian bahan bakar minyak sebesar 47,36 persen,” begitu kalkulasi Bata. 


Tak berhenti sampai di situ, mobil berbahan bakar air dan bensin ini kembali “tancap gas” dengan diujicobakan pada 18 Desember 2013 lalu, dengan rute Serpong (Tangerang Selatan) – Majalengka (Jawa Barat) – Indramayu (Jawa Barat) – Lenteng Agung, Jagakarsa (Jakarta Selatan) – Pondok Labu (Jakarta Selatan) – Serpong – lalu ke Pondok Labu lagi. Jarak tempuhnya menjadi total 1.390 kilometer, dan menghabiskan pemakaian bahan bakar minyak sebanyak 124,32 liter. “Atau, dengan kata lain, mobil keluaran tahun 1995 yang kami pasangkan bahan bakar air dan bensin ini bias mencapai jarak 11,18 kilometer untuk satu liter bensinnya,” ujar Bata lagi. 

Berharap Political Will Pemerintah
Meski sudah terbukti jauh lebih ekonomis dan lebih irit, bila menerapkan teknologi hydrogen pada sepeda motor maupun mobil, bahkan lebih akrab lingkungan karena tidak menghasilkan polusi udara dari knalpot kendaraan bermotor, nyatanya menurut Bata, temuan-temuan inovatif yang sederhana serta ramah lingkungan seperti ini justru belum banyak dipercaya oleh berbagai lapisan masyarakat.
“Tidak mudah untuk membuat masyarakat percaya untuk menggunakan kendaraan bermotor dengan bahan bakar air dan bensin, terutama dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh penjualan bensin, atau bahan bakar minyak. Padahal, gaung sumber energi terbarukan semakin kencang disuarakan. Penghematan energi harus dilaksanakan sejak dini, karena sumber-sumber bahan bakar minyak suatu saat pasti akan susut dan habis. Political will Pemerintah mustinya sejak dahulu berpihak pada penggunaan energi alternatif yang ramah lingkungan,” harap Bata. 

Sumber: Kompasiana

Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Motor Ini Berbahan Bakar Air. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers