Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

06 September 2014

Video Sjafrudin Prawiranegara Presiden RI Yang Terlupakan

Tokoh yang lahir di Anyar Kidul yang memiliki nama kecil "Kuding" ini memiliki darah keturunan Sunda Banten dan Minangkabau. Buyutnya, Sutan Alam Intan, masih keturunan raja Pagaruyung di Sumatera Barat, yang dibuang ke Banten karena terlibat Perang Pandri. Sjafruddin Prawiranegara lahir di Serang 28 Februari 1911 dari pasangan Raden Arsjad Prawiraatmadja dengan Noer’aini. Arsjad adalah seorang bangsawan Sunda Banten, masih keturunan Sultan Banten, pangreh praja berpendidikan OSVIA (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren), orang Sunda zaman dulu menyebutnya Sakola Menak atau Sekolah Bangsawan. Sebelumnya Arsjad pernah mengenyam pendidikan di pesantren, sehingga pengetahuan agama Islamnya cukup dalam untuk masyarakat saat itu, mengingat belum ada kitab tafsir Al Quran dalam bahasa Belanda atau Sunda pada zaman beliau remaja. Ibu Noer’aini berayah pejabat pangreh praja Banten, tetapi sebenarnya seorang keturunan Minangkabau, sedangkan ibundanya seorang putri Sunda Banten asli.




Lihat Video Sjafrudin Prawiranegara Presiden RI Yang Terlupakan Disini

Arsjad terkenal karena ketegasannya saat berhadapan dengan orang Belanda dan atasannya saat itu, ia tak mau merendahkan diri seperti umum berlaku saat itu bagi seorang pejabat bawahan. Pernah pada suatu ketika saat Arsjad menjabat Camat di Anyar Kidul ia memukuli seorang Kontrolir Belanda yang bersikap congkak di hadapannya. Perbuatannya mengakibatkan ia diturunkan pangkatnya dan selanjutnya ia dipindahkan ke Ngawi, Ponorogo, Blitar sampai akhir hayatnya bulan Maret 1939. Arsjad wafat di Kediri saat sedang berpidato sambil mengutip ayat-ayat Al Quran.

Pendidikan

Sjafruddin mengikuti pendidikan Belanda, mulai ELS (Europeesche Lager School) di Serang dan Ngawi, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Madiun, AMS (Algemeene Metddelbare School) di Bandung, sampai tingkat universitas di RHS (Recht Hoge School) di Betawi. Beliau meraih gelar Meester in de Rechten (Mr) pada September1939. Gelar Mr ini masih digunakan oleh lulusan Fakultas Hukum lulusan 1950 – 1960, saat pendidikan tinggi sepenuhnya sudah diambil alih dari tangan Belanda. Pada tahun 1961 gelar Mr diganti menjadi SH (Sarjana Hukum), sesuai Keputusan Presiden No 265, 20 Agustus 1962. Menurut pendapat saya gelar SH tahun 1962 dan tahun tahun berikutnya tidak dapat disebut Sarjana Strata 1 (S1) seperti saat ini. Sebelum berlakunya pendidikan model S1 – S2 – S3 mencontoh sistem pendidikan di Amerika, pendidikan  Sarjana Hukum di Indonesia mengadopsi sistem pendidikan hukum di Belanda dan Belgia. Lulusan perguruan tinggi Indonesia sebelum sistem S1-S2-S3 berlaku, sepengetahuan saya dalam ijazah sarjananya dinyatakan berhak mempertahankan disertasi Doktor.

Karir  

Sejak meraih gelar Meester in de Rechten, Sjafruddin Prawiranegara bekerja di Perkumpulan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK) merangkap sebagai redaktur majalah Soeara Timoer. Hanya beberapa bulan ia bekerja di PPRK, pada tahun 1940 ia diterima di Departemen van Financien (Departemen Keuangan), ditempatkan di Kantor Inspeksi Pajak Kediri.
Pada zaman Jepang Sjafruddin diangkat menjadi Kepala Inspeksi Pajak Kediri, karena orang-orang Belanda yang sebelumnya menjabat ditangkapi tentara Jepang. Ia juga sempat ditempatkan di Bandung.
Setelah Proklamasi, pada 1945 – 1947, beberapa pekerjaan dan jabatan yang pernah dijalaninya adalah Anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), Menteri Muda Keuangan, Menteri Keuangan. Saat ia menjadi Menteri Keuanganlah untuk pertama kalinya diterbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI). Selanjutya Sjafruddin menjadi Menteri Kemakmuran dalam kabinet yang dipimpin Perdana Menteri Muhammad Hatta.
Jabatan paling top bagi Sjafruddin Prawiranegara adalah saat ia menjabat Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), saat ia sedang berada di Bukittinggi. Keberadaan PDRI ini dipandang penting karena secara de facto dan de jure Republik Indonesia masih berdiri. PDRI dibentuk atas amanat Presiden Sukarno sehubungan NICA-Belanda melakukan agresi militer ke Yogyakarta pada 19 Desember1948 dan menangkap Presiden, Wakil Presiden dan para pemimpin pemerintahan lainnya.
Jabatan penting berikutnya adalah Presiden Direktur De Javasche Bank pada 14 Juli1951, yang setelah dinasionalisasi pada 1 Juli 1953 menjadi Bank Indonesia dengan Gubernur pertamanya Sjafruddin Prawiranegara.

Kritis dan Pemberontak

Sjafruddin pada dasarnya seorang kooperatif, buktinya ia sekolah di sekolah Belanda dan pernah menjadi pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda. Akan tetapi ia tetap kritis, ia pernah mengkritik seorang professor Belanda yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia tidak mungkin menjadi bahasa ilmu, karena merupakan bahasa primitif. Kritikannya pada professor Belanda sangat pedas, dalam bentuk tulisan di majalah USI (Unitas Studisorum Indonesis) berjudul’Een Hollandse Kwajongen’ artinya kira-kira ‘Bergajul Belanda’. Ia juga pernah berdebat keras dengan seorang Jepang yang tidak mau membayar pajak saat ia menjadi pejabat inspeksi pajak di Bandung. Pada zaman itu tentu sebuah keberanian luar biasa ‘melawan’ Belanda dan kemudian Jepang.

Pada saat ia menjabat Ketua PDRI di hutan-hutan Sumatera Tengah, ia sempat bergesekan pendapat dengan Sukarno dan Muhammad Hatta yang sedang dibuang ke pulau Bangka, mengenai penunjukan wakil juru runding RI pada perundingan Roem - Van Royen. Masalahnya Muhammad Roem yang ditunjuk mewakili Republik Indonesia, saat itu statusnya tahanan Belanda. Panglima Besar Sudirman juga bersikap sama atas perundingan Roem - Van Royen, Sjafruddin dan Sudirman berpendapat seharusnya PDRI yang berunding dengan Belanda.  Gesekan antara para pemimpin Republik Indonesia tidak sampai menjadi perpecahan karena kebesaran jiwa para pemimpin Republik Indonesia yang lebih mengedepankan persatuan bangsa daripada ego masing-masing.

Sjafruddin Prawiranegara juga berseberangan dengan Pemerintah Pusat pada pecahnya peristiwa pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Bukittinggi pada tahun 1958. Ia berpihak kepada PRRI bahkan menjadi Perdana Menteri PRRI sejak 1958 – 1961. Akhirnya Sjafruddin menyerahkan diri kepada ibu pertiwi berdasarkan amnesti yang diumumkan Presiden Sukarno bagi para pendukung PRRI untuk menyerahkan diri sebelum 5 Oktober 1961. 

Tak lama setelah berkumpul kembali dengan keluarganya, terutama anak-anaknya, di Jakarta, Sjafruddin Prawiranegara dimasukkan ke bui oleh pemerintah Presiden Sukarno, sampai ia dibebaskan saat Suharto berkuasa. Pada saat ia ikut PRRI, istrinya, Tengku Halimah, menyertai Sjafruddin di hutan-hutan Sumatera Tengah. Bagaimanapun PRRI adalah pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah, sekalipun seandainya PRRI menang Republik Indonesia tidak akan bubar, hanya akan lahir Republik Indonesia yang lain dengan pimpinannya antara lain Syafruddin Prawiranegara.

Pada zaman pak Harto rupanya kekritisan Sjafruddin belum hilang, ia turut menandatangani Petisi 50 1980 bersama tokoh-tokoh lainnya seperti Ali Sadikin, Hugeng Iman Santoso, dll. Tentu dengan ikut Petisi 50, beliau mendapat pengawasan intelijen Negara.

Lebih Takut Kepada Allah SWT

Sjafruddin walaupun berkali kali jadi Menteri, pernah pula menjadi Gubernur Bank Indonesia, ternyata seorang yang hidup bersahaja, hidup relatif pas-pasan dengan gaji pegawai negerinya, terutama saat ‘zaman Revolusi’. Esensinya beliau jauh dari korupsi.

Hanya saat menjadi Presiden De Javasche Bank, mungkin pendapatan beliau sangat memadai, sehubungan sebelum ia menyatakan setuju diangkat menjadi Presiden De Javasche Bank, ia mengajukan syarat bahwa gaji karyawan bank tersebut setelah nanti dinasionalisasi tidak diturunkan mengikuti gaji pegawai negeri. Persyaratan yang beliau ajukan itu saya kira menjadi berkah bagi karyawan Bank Indonesia masa kini, yang menikmati gaji dan tunjangan serta pensiun yang jauh lebih besar dibanding pegawai negeri sipil.

Sebenarnya Sjafruddin menolak saat ditawari menjadi Presiden De Javasche Bank, mengingat ia ingin konsentrasi menyejahterakan keluarganya dengan niat berwiraswasta, namun Spiel seorang direksi De Javasche Bank yang membujuknya mengatakan bahwa gaji sebagai Presiden De Javashe Bank sangat memadai.

Salah satu pernyataan Sjafruddin Prawiranegara yang perlu di teladani adalah, bila ia sering mengeritik 
pemerintah saat dipimpin Pak Harto, bukan berarti dia tidak takut kepada Presiden Suharto, atau tidak takut kepada Pangkopkamtib Laksamana Sudomo, namun ia lebih takut pada Allah SWT. Ia menyatakan tak menyimpan benci sedikitpun terhadap Presiden Suharto, Laksamana Sudomo atau pejabat lainnya. Sjafruddin menyampaikan kritik karena kasih sayang, antara lain ia berpegang pada surat An-Nahl ayat 125 “Serulah kepada jalan (agama) Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya…”

 Tiga suri teladan ( hero )

Ada sedikitnya tiga contoh tindakan Sjafruddin yang patut diteladani para pejabat negeri ini. 

1. Saat beliau ditunjuk sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet Sjahrir ke-3. Ketika itu dalam usia 35 tahun, ia dianugerahi Tuhan anak ketiga: Chalid Prawiranegara.
Pasti sulit dipahami dari kacamata sekarang jika Menteri Keuangan tak punya uang. Namun itulah yang terjadi pada keluarga Sjafrudin Prawiranegara. Begitu buruknya kondisi finansial sampai tak mampu untuk membeli kain gurita bagi bayi Chalid. Untungnya, Lily- nama panggilan Tengku Halima, istri pak Sjafruddin tidak kehilangan akal. Seperti dikutip Ajip Rosidi dalam biografi tentang pak Sjafruddin, Lebih Takut Kepada Allah SWT ( 1985 ), Lily menyobek kain kasur, lalu ia jadikan kain gurita bayi. Padahal, seberapa mahalkah secarik kain jika seorang Menteri Keuangan ingin menggunakan pengaruhnya? Ia tidak seperti pejabat masa kini. Ia tidak tergoda menggunakan sepeser pun uang negara.

2. Ketika terjadi Agresi Militer ke II Belanda, 19 Desember 1948. Beliau yang saat itu Menteri Kemakmuran sudah sebulan bertugas di Bukittinggi atas perintah Wakil Presiden Mohammad Hatta. Patut diingat waktu itu yang sisebut daerah Republik hanya tiga tempat: Jogjakarta, Bukittinggi, dan Kutaraja ( kini Banda Aceh ). Daerah lain sudah bergabung kedalam BFO ( Bijeenkomst Federal Overleg/Musyawarah Negara Federal ) bentukan Van Mook. Awalnya Mohammad Hatta menjamin beliau hanya akan bertugas sekitar satu pekan.
Saat Agresi II bermuara pada penangkapan dan pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta, bung Sjahrir, serta banyak pemimping republik ke Bangka, rapat kabinet dadakan yang sempat dipimpin Bung karno menghasilkan dua radiogram, pertama, penyerahan mandat untuk menjalankan mandat kepada Dr Sjafruddin Prawiranegara. Kedua kepada Dr Sudarsono ( Duta Besar Indonesia di India ) dan Mr Maramis ( Menteri Keuangan yang sedang di New Delhi ) untuk membentuk Exile Government sekiranya upaya pak Sjafruddin Prawiranegara membentuk pemerintahan darurat tidak berhasil. Namun, kedua radiogram itu tidak sempat dikirim kepda penerima mandat karena Kantor Pos, Telegraf dan Telpon sudah diduduki Belanda.
Menurut Aisyah Prawiranegara, putri sulung beliau. Untuk mengatasi saat-saat sulit tanpa kepala keluarga pemberi nafka selama itu. Lily sebagai istri Mentri memilih berjualan sukub goreng untuk menghidupi keluarganya ketimbang menerima bantuan, misalnya "titipan keju" dari Merle Cochran (diplomat AS, Ketua Komisi Tiga Negara) yang disampaikan para ibu Menteri non-PDRI.

3. Terjadi setelah perjanjian Roem-Roijen ( Mei 1949 ) yang membuat kubu Republik terpecah dua kelompok: kubu Trancee Bangka, sebutan bagi tahanan politik di Bangka yang bersedia berunding dengan Belanda melaluai Mohammad Roem, dan kubu PDRI ( Pemerintah Darurat Republik Indonesia ) dengan dukungan Panglima Besar APRI letnan Jenderal Sudirman yang menolak perjanjian Roem-Roijen.
Sudirman bahkan mengirimkan surat sangat keras "...Minta keterangan apakah orang-orang yang masih ditahan atau dalam pengawasan Belanda berhak berunding? Lebih-lebih menentukan sesuatu yang berhubungan dengan politik unutk menentukan status negara, sedangkan telah ada Pemerintah Pusat Darurat yang diremiskan oleh Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno ke seluruh dunia pada tanggal 19/12/1948."
Awal juni 1949, M Natsir yang dikirim Bung Hatta untuk melunakkan hati PDRI mengatakan ia sependapat dengan PDRI. Namun ia berharap pak Sjafruddin Prawiranegara bersedia mengembalikan mandat PDRI kepada Soekarno-Hatta. Tawaran Natsir ditolak semua anggota PDRI.

Akhirnya beliau sendiri yang melunakkan hati kawan-kawannya dengan menyatakan, jika PDRI dan APRI tetap mempertahankan pendirian secara kaku berdasarkan mandat belaka, maka terjadi dualisme kepemimpinan nasional yang membinggungkan rakyad dan mengancam persatuan. Oleh karena itu, meski PDRI tetap menolak perjajian Roem-Roijen, ia bersedia mengembalikan mandat kepada Soekarno-Hatta "Untuk menegakkan kemerdekaan dak kedaulatan Indonesia serta demi persatuan nasional serta atas rida Allah". Argumentasi itu membuat Natsir menangis dan anggota PDRI.

Bayangkan jika beliau menolak, adakah cerita panjang lebar perjuangan Soekarno-Hatta?,siapa yang tidak mengenal karisma dan ksatriaan Panglima Besar Jenderal Sudirman, ia tentunya dengan angkatan telah berpihak pada Sjafruddin Prawiranegara. Namun sifat sederhana dan berjiwa tegar ia memilih meletakan jabatan dari pada sesama rakyad terjadi pertikain disela-sela melawan Belanda. seperti yang dikatakan oleh Bung Hatta dalam otobiografinya, ( Memoir (1971), cetak ulang 2011 dengan judul Untuk Negeriku: sebuah otobiografi ), memberikan judul pada salah satu anak bab dengan " Sudirman Terus Bergerilya, Sjafruddin Presiden Darurat".

Ia berserta Istrinya pantas menerima gelar Pahlawan.

*) Sumber bacaan :
 
- Tempo Interaktif, 8 November 2011
- Ajip Rosidi, 1986. Biografi “Sjafruddin Prawiranegara, LEBIH TAKUT KEPADA ALLAH SWT”
- Kompas
- serta diambil dari opini saudara Akmal Nasery Basral serta saudara Hendi Setiawan.Dan menghasilakan penggabungan yang menarik.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Video Sjafrudin Prawiranegara Presiden RI Yang Terlupakan. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers