Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

16 March 2014

Lokalisasi PSK Di Tutup, HIV AIDS Semakin Menyebar

Belakangan ini pemerintah kota, Kabupaten dan pemerintah propinsi sedang gencar menutup lokalisasi Pekerja Seks Komersial atau PSK, tak jarang para ulama dan ormas berlatar agama ikut berperang terhadapnya.

Sedikitnya, ada empat lokalisasi yang di klaim sudah tidak beroperasi dalam enam tahun terakhir. yaitu :
1. Kramat Tunggak, Koja Jakarta Utara
2. Saritem, Gardujati Bandung
3. Bangunsari, Surabaya
4. Giwangan, Yogyakarta



Namun, realita hari ini berkata lain. Praktik prostitusi makin marak walaupun tidak semeriah dulu. Sebagai contoh, wanita - wanita malam di kota Bandung terlihat "mangkal" di sepanjang Kawasan Tegallega, pos polisi sepanjang Soekarno - Hatta, Kawasan Piset Square jalan BKR dan dibawah jembatan layang Pasupati. Adapun di DKI Jakarta, sejak Kramat Tunggak disterilkan para PSK bergeser ke Kalijodo. Perlu diketahui, sebagai daerah hitam, geliat kehidupan malam Kalijodo diramaikan dengan banyaknya bertebaran warung remang-remang, bar, kafe-kafe dangdut, billiard, rumah bordir, transaksi narkoba, dan judi kecil-kecilan.

Tak heran bila transaksi perputaran omzet uang di Kalijodo ini cukup besar, bisa mencapai ratusan juta rupiah tiap malam. Sebagian besar dari para PSK ini tinggal di lokalisasi dengan pengawasan ketat para mami yang menjaganya di bawah pengawasan preman yang disewanya, daerah ini terkenal juga sebagai daerah konflik.

Kali ini Surabaya, dibawah kepemimpinan Tri Rismaharini bekerjasama dengan pihak terkait memberantas beberapa lokalisasi di wilayahnya, dan hingga saat ini tercatat lokalisasi Bangunsari dan Tambak Asri sudah ditutup.

Lokalisasi Ditutup, AIDS Mewabah.

Menyoal penutupan sejumlah lokalisasi di Indonesia, apakah penyakit HIV/AIDS bisa terminimalisir ?
Tercatat, 15 warga di eks lokalisasi Tambakasri positif mengidap penyakit mematikan itu. Demikian juga di Kawasan eks lokalisasi Saritem, 2.600 kepala keluarga positif HIV. Ini menjadi dilema tersendiri bagi aparat dan pemuka agama, sebab bagaimanapun juga lokalisasi harus ada untuk menghindari penyakit kelamin tersebut.

Lokalisasi Ditutup, Menguntungkan Sepihak!

Tak dimungkiri, akibat penutupan sejumlah tempat lokalisasi di Bandung, Jakarta dan Surabaya, pendapatan warga sekitar menurun dan nasib PSK semakin terkatung - katung. Adapun, mereka yang eks PSK, diberikan sejumlah bantuan pelatihan keterampilan dan modal usaha, namun itu semua tak menyelesaikan masalah. Sebagai contoh, 20 PSK di Kota Bandung diberi pelatihan menjahit, memasak dan tata rias dan setelah selesai diberi suntikan dana masing-masing Rp 10.000.000,- untuk buka usaha, mulanya bisa dan senang dapat berubah nasib tetapi setelah 3 tahun mereka memutuskan untuk "balik kandang". Sementara itu, kalangan ulama awalnya menyambut baik penutupan tempat PSK itu dan berjanji untuk mengubahnya menjadi kawasan agamis, tetapi realita di Saritem, Tambakasri dan Kalijodo masjid dan pesantren berdiri kokoh tetapi rumah bordil dan panti pijat plus tetap ramai.

Maka dari itu, tidak ada jalan lain untuk melegalkan praktik prostitusi di Indonesia. Dengan catatan, pemerintah dan para pemuka agamanya bekerja sama membuat formula agar lokalisasi dijadikan daerah tersendiri bagi warga asing dan warga lokal dilarang keras untuk datang kesana. Ini dimaksudkan agar penduduk NKRI bersih dari penyakit HIV/AIDS.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Lokalisasi PSK Di Tutup, HIV AIDS Semakin Menyebar. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers