Jalan-jalan sesat adalah sengaja membuat diri tersesat untuk mengetahui sesuatu. Dan jalan-jalan sesat ini terkadang penuh tekanan. Namun tekanan dan intimidasi itu melahirkan kecerdasan dan ketertindasan melahirkan kreatifitas...

Pin It

29 September 2017

Catatan Sejarah Pesawat Hercules C-130 A1301 Yang Kini Menghuni Museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspusdirla) TNI AU di Yogyakarta

Akhirnya, Jumat 29 September 2017 pagi hari setelah menempuh perjalanan 7 hari pesawat C-130B Hercules A-1301 sampai dirumah barunya di Museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspusdirla) TNI AU di Yogyakarta. Sampai dengan selamat setelah perjalanan darat panjang selama 7 hari dari Pusdiklat Paskhas, Lanud Sulaiman, Margahayu, Bandung.


Badan pesawat Hercules A-1301 ini berangkat dari Bandung pada Jumat malam, 22 September 2017, pukul 23.00 WIB. Dalam perjalanannya, badan pesawat diangkut menggunakan truk trailer dengan rute Bandung–Rancaekek–Nagrek–Limbangan–Ciawi–Tasikmalaya–Banjar–Wangon–Gombong–Kebumen–Kutoarjo–Purworejo–Yogyakarta. Perjalanan sempat terhambat karena pesawat nyangkut di jembatan Cindaga, Rawalo.


Sejarah Pesawat Hercules C-130 A1301 Yang Kini Menghuni Museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspusdirla) TNI AU di Yogyakarta

Sejarah singkat, Indonesia tercatat sebagai negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan Hercules C-130. Latar belakangnya adalah Allan Pope, pilot swasta Amerika Serikat, yang ditembak jatuh dan ditangkap PRRI/Permesta pada 1958.

Dalam buku Hercules, Sang Penjelajah: Skuadron Udara 31 terbitan TNI AU, keberadaan Hercules di Indonesia bermula dari kunjungan Presiden Soekarno kepada koleganya, Presiden Amerika Serikat John F Kennedy pada akhir 1959. Kennedy berterima kasih atas kesediaan Indonesia melepas Pope, pilot CIA berstatus sipil yang memperkuat AUREV-Permesta, yang ditembak jatuh Kapten Udara Penerbang Dewanto dalam pertempuran udara.

Ini juga merupakan satu-satunya “dog fight” bersenjata dan dimenangi oleh penerbang tempur TNI AU hingga kini. Kennedy menawarkan “pengganti” Pope kepada Soekarno. Berdasarkan “keperluan” dari Panglima AU, Laksamana Madya Udara Suryadarma, AURI memerlukan pengganti pesawat transportasi de Havilland Canada DHC-4 Caribou.

Pilihan kemudian jatuh kepada Hercules C-130B, dalam kunjungan Soekarno ke pabriknya, Lockheed (belum bergabung dengan Martin). Akhirnya, 10 unit C-130B bisa diterbangkan dengan proses melalui feri ke Tanah Air. Yang membanggakan, penerbangan-penerbangan itu dilakukan langsung oleh pilot dan awak AURI. Saat itu, delapan C-130B kargo dan dua C-130B tanker bisa dibawa ke Pelabuhan Udara Kemayoran, Jakarta.

Nah, inilah pertama kalinya terjadi penerbangan feri terjauh untuk semua jenis pesawat terbang. C-130B AURI terbang sejauh 13.000 mil laut melintasi tiga samudra dari pabrikan ke negara operatornya. Itu juga merupakan penerbangan internasional pertama yang 100 persen diawaki personel aktif AURI dan belum pernah terjadi pada militer lain di dunia saat itu.

Truk pengangkut potongan pesawat ini tersangkut jembatan

Saat berada di daerah Banyumas, perjalanan mengalami sedikit permasalahan. Sekitar pukul 11.30 truck melintas di Jembatan Soeharto, Cindaga, Rawalo sungai Serayu di jalur Purkowerto-Gumilir. Truk tersebut sempat menjadi tontonan warga. Lalu lintas dari dua arah juga tersendat akibat insiden ini.


Truk tersebut tersangkut karena melebihi tinggi yang diperbolehkan jembatan sebesar 2 cm. Truck berusaha maju tapi tidak bisa jalan, mundur juga tidak bisa. Akhirnya, pengemudi berusaha melakukan cara-cara alternatif agar tetap bisa melintas. Setelah gagal melintas, pengemudi berusaha mengurangi tekanan angin roda belakang truck. Ketinggian pengganjal badan pesawat, juga berusaha diturunkan agar truck tetap bisa melintas. Namun upaya itu tetap tidak membuahkan hasil.

Akhirnya setelah dilakukan konsolidasi dengan TNI AU, disepakati truck dimundurkan terlebih dahulu setelah tekanan angin kembali diisi. Perjalanan pun dialihkan mengambil jalur Menganti-Kesugihan-Sampang, Cilacap. Jalannya memadai karena itu merupakan jalan nasional, di jalur tersebut juga tidak ada jembatan yang seperti di sini. Ada sebuah jembatan besar di jalur tersebut, namun tidak ada pilar atasnya.

Perjalanan membawa badan pesawat kali ini adalah kloter ke tiga. Bagian lain pesawat sudah berada di Jogjakarta. Sesampainya di Jogjakarta, badan pesawat langsung dirangkai dengan bagian lainnya.
Widodo Groho Triatmojo
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Catatan Sejarah Pesawat Hercules C-130 A1301 Yang Kini Menghuni Museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspusdirla) TNI AU di Yogyakarta. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers