Pin It

15 July 2017

Posted by Widodo Groho Triatmojo on 17:52

Ealah Paska Blokir Telegram, Sub Situs Kominfo Di Retas Dan Ini Tampilannya

Hari ini warganet ramai membahas pemblokiran situs Telegram yang beralamat di web.telegram.org oleh Kominfo. Telegram adalah layanan pesan singkat gratis berbasis cloud, yang tersedia di sejumlah platform, termasuk iOS dan Andorid. Telegram diluncurkan pada 2013 oleh dua orang bersaudara, Nikolai dan Pavel Durov, yang sebelumnya mendirikan VKontakte. Langkah Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir layanan Telegram pada platform web tentu mendapat respons beragam dari publik, banjir protes sampai dukungan. Salah satu respons protes, sub channel beralamat pse.kominfo.go.id pada website Kominfo, Sabtu 15 Juli 2017 sempat diacak-acak oleh peretas. Hal ini saya ketahui ketika iseng membuka web Kominfo tersebut. Tampilan halaman muka sub channel Direktorat e-Business Penyelenggara Sistem Elektronik Kominfo sempat berubah tampilan. Dan berikut tampilan sub channel website Kominfo yang terkena deface dari hacker.


Peretas mengubah tampilan sub channel itu dengan menampilkan karakter manga mengacungkan jari tengah. Di bagian atas gambar manga tersebut, tertulis sindiran langkah pemblokiran yang dilakukan Kominfo. "Solusi itu blokir...Indonesia mundur 10 abad!" demikian tulisan sindiran tersebut.

Namun deface tampilan sub channel website Kominfo itu tak berlangsung lama. Sebab kemudian tampilan sub channel situs Kominfo bisa kembali normal.

Sebelum peretesan memang pemerintah memblokir situsweb Telegram pada hari ini. Domain web.telegram.org berada dalam daftar pengaduan sebagai situs terlarang di Trust+ Positif Kementerian Kominfo. Sedangkan aplikasi mobileTelegram masih bisa digunakan.

Reaksi Pengguna Telegram

Pemblokiran ini mengundang reaksi dari para penggunanya, dan mereka mengeluhkan hal tersebut kepada Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara. Pantauan saya melalui Twitter sejak Jumat (14/7/2017), para pengguna Telegram menyampaikan kritikannya atas perintah pemblokiran tersebut kepada Rudiantara melalui Twitter. Mereka menyayangkan langkah pemblokiran tersebut.

Berikut sejumlah cuitan yang ditujukan ke akun Twitter pribadi Rudiantara:

"@rudiantara_id chef masa iya Telegram diblokir hanya gara-gara alasan yang gak masuk logika," tulis @nasirdbjpr.

"Pak Menteri @rudiantara_id kami bekerja pakai Telegram, kalau mau deteksi teroris kenapa tidak diretas saja komunikasinya bukan aplikasinya?!," kicau Mas Noval Setyawan dengan akun @NopankOpank.

"Sangat disayangkan Telegram akan diblokir oleh Menkominfo. Padahal aplikasi ini memiliki fitur yang tidak dimiliki pesaingnya @rudiantara_id," kicau akun @isnu.

Selama ini Telegram disebut sebagai layanan yang menjadi alat komunikasi teroris. Sepak terjang Telegram memang selalu menarik perhatian, terlebih karena sikap perusahaan yang tidak ingin berbagi data para penggunanya dengan pemerintah.

Telegram memiliki kantor pusat di Berlin, Jerman. Tapi sampai saat ini, layanan tersebut tidak mengungkapkan lokasi rinci kantor atau badan hukum yang mereka gunakan dengan alasan untuk melindungi tim dari pengaruh yang tidak perlu dan para pengguna dari permintaan data pemerintah.
Pemerhati transportasi publik, bus, truck serta sejarahnya.
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Next
    « Prev Post
    Previous
    Next Post »

    Note: Only a member of this blog may post a comment.

    Terima Kasih

    Followers