Pin It

15 April 2014

Posted by Widodo Groho Triatmojo on 12:18

Bumi Suci Sonosewu Bekonang, Sukoharjo

Sonosewu, sebuah desa di wilayah kawedanan Bekonang, Sukoharjo. Tempat ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pengagum dunia kebatinan. Bukan cuma lokal tapi internasional. Kebanyakan dari mereka berasal dari Universiteit Holland yg memang khusus mempelajari supranatural. Keagungan Bumi Suci Sonosewu telah diramal oleh Sang Raja Pinandita Jayabaya. Beliau meramal "Bila kelak ditempat tersebut didirikan pusat pemerintahan,maka akan langgeng". Kenapa ? Karena tempat tersebut memancarkan aura keagungan yang tiada tara besarnya.


Sebuah babad tanah jawa mencatat,tanah satu ini semakin terkenal dijaman kegelapan yang kala itu menyelimuti Keraton Kartasura yang saat itu banyak intrik-politik bahkan peperangan yg mengakibatkan penderitaan rakyat banyak. Bahkan keraton Kartasura dibawah kekuasaan Pakoe Boewono II harus tersingkir dari tahta karena pemberontakan gabungan yang terdiri dari Mas Garendi,Kapitan Sepanjang,Bupati Pati Tumenggung Mangunoneng dan Bupati Grobogan Raden Adipati Martapura. Pemberobtakan ini lebih dikenal dengan geger pecinan.

 Keterlibatan orang-orang Cina dalam pemberontakan ini bersumber dari pembunuhan massal yang dilakukan oleh Belanda di Batavia pada tahun 1740 M. Pembunuhan masal diperkirakan karena persaingan perdagangan candu. Kala itu PB II dianggap condong pada kompeni,dan perkiraan ini benar adanya. Sehingga akhirnya warga pecinan berkolaborasi dengan para adipati pribumi mengadakan pemberontakan.

Karena begitu hebatnya tekanan kaum pemberontak,waktu itu PB II terpaksa menyingkir ke Ponorogo. Untuk menyelamatkan tahtanya dengan terpaksa pula beliau meminta bantuan Kompeni untuk mengembalikan kehormatannya sebagai raja.

Usaha ini memang berhasil,tapi PB II merasa masygul karena keratonnya pernah diduduki oleh kaum pemberontak. Sehubungan dengan hal ini,pujangga keraton kyai Yosodipuro dan Raden Tumenggung Hoggowongso berpendapat,jika keraton sudah pernah diduduki oleh musuh berati telah tercemar dan tak baik untuk dilestarikan.
     
Pandangan itu telah membuat PB II memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahannya ke arah timur Kartasura. Seketika diutuslah tim gabungan yang terdiri dari Patih Pringgoloyo,Sindurejo,komanndan VOC Mayor Van Hohendorff,Raden Tumenggung Honggowongso,Pangeran Wijil dan dua ulama ternama yakni Kyai Kalipah Buyut dan Kyai Pekik Ibrahim. Dan dalam tim itu terdapat seorang yang dituakan yakni Kyai Yosodipuro.
    
Berdasarkan penelitian tim tersebut,sebenarnya ada 3 lokasi yang dianggap memiliki tuah yang sangat baik sebagai pusat pemerintahan. Yang pertama adalah desa Kadipolo yang sekarang lebih dikenal sebagai Segaran Sriwedari. Yang kedua adalah desa SOLO,daerah berawa dan terletak dekat Bengawan Solo. Dan yang ketiga adalah Sono Sewu yang terletak di sebelah timur Bengawan Solo.
    
Jika dilihat dari sudut pandang sekarang,tempat yang terrakhir (Sono Sewu) berada di sebelah barat Bekonang. Meski daerah nya rata,tetapi Tumenggung Honggowongso merasa tempat tersebut kurang sesuai. Timbul pertanyaan mengapa dinyatakan kurang sesuai ?
    
Ini semua karena Sono Sewu merupakan tempat yang baik. Jika dibangun kerajaan,maka akan menjadi pusat pemerintahan yang berkembang pesat. Hanya saja para kawulanya akan tetap memeluk ajaran Hindu dan Budha. Selain itu Sono Sewu adalah lokasi dimana turunnya Wahyu Keraton. Dan ini sebagai jawaban atas ritual yang dilakukan oleh R.Ng. Yosodipuro yang kala itu meminta petunjuk dari Tuhan dan mendapat petunjuk agar memindahkannya ke Solo.
     
Dalam Kitab Kidung Siluman pun tercatat Sono Sewu di kuasai oleh ratu gaib seorang wanita yang bernama NI Mbok Suwanggi yang mempunyai kerajaan gaib yang sangat besar.
Pemerhati transportasi publik, bus, truck serta sejarahnya.
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Next
    « Prev Post
    Previous
    Next Post »

    Note: Only a member of this blog may post a comment.

    Terima Kasih

    Followers